TVRINews, Bandung
Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin memperkuat kompetensi calon pekerja migran Indonesia melalui Program SMK Go Global untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di pasar internasional. Hingga 4 Oktober 2026, tercatat sebanyak 212.182 peluang kerja luar negeri masih terbuka bagi tenaga kerja Indonesia.
Berdasarkan data Sistem Informasi Pasar Kerja Luar Negeri (SIP2MI), dari total 287.291 posisi yang tersedia, sebanyak 75.109 posisi atau 26,14 persen telah terserap. Sementara itu, 73,86 persen atau 212.182 posisi lainnya masih terbuka bagi tenaga kerja yang memenuhi kualifikasi. Hal itu disampaikan Mukhtarudin saat melakukan kunjungan kerja ke Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI), Bandung, Jawa Barat, Jumat, 9 Oktober 2026.
"SMK Go Global merupakan upaya nyata pemerintah untuk menyiapkan Pekerja Migran Indonesia yang terampil, profesional, dan berdaya saing global. Program ini juga menjadi bentuk pelindungan dari hulu, dengan membekali peserta kompetensi yang sesuai kebutuhan pasar kerja internasional agar siap bekerja melalui jalur yang legal, aman, dan terlindungi," kata Mukhtarudin dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Sabtu, 10 Oktober 2026.
Dalam kunjungan tersebut, Mukhtarudin meninjau pelaksanaan pelatihan SMK Go Global sekaligus mengapresiasi dukungan UKRI dalam menyiapkan sumber daya manusia Indonesia yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja internasional.
Menurut Mukhtarudin, peluang kerja global perlu diimbangi dengan peningkatan keterampilan, penguasaan bahasa asing, kedisiplinan, serta pemahaman budaya kerja di negara tujuan. Dengan bekal tersebut, calon pekerja migran diharapkan mampu bersaing dan mengakses pekerjaan melalui prosedur resmi.
Berdasarkan data per 8 Oktober 2026, jumlah peserta pelatihan SMK Go Global dari Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Jawa Barat mencapai 1.319 orang. Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi sementara dibandingkan wilayah kerja BP3MI lainnya.
Khusus di UKRI, pelatihan diikuti 175 peserta yang terbagi dalam sembilan kelas. Pelatihan mencakup tiga bidang, yakni operation production dan bahasa Inggris dengan 57 peserta, welder dan bahasa Inggris dengan 20 peserta, serta barista dan bahasa Inggris dengan 98 peserta.
Kemudian Mukhtarudin menjelaskan, pelatihan tersebut merupakan program peningkatan kompetensi atau upskilling bagi peserta yang telah memiliki kemampuan dasar sesuai bidangnya. Melalui pelatihan dan sertifikasi, peserta diharapkan memiliki keterampilan yang memenuhi standar kompetensi dunia kerja internasional.
Ia menilai, peluang tersebut juga perlu dimanfaatkan di tengah bonus demografi Indonesia. Ketika Indonesia memiliki jumlah penduduk usia produktif yang besar, sejumlah negara justru menghadapi kekurangan tenaga kerja akibat penuaan penduduk atau aging population.
"Penguatan tenaga kerja terampil semakin penting di tengah bonus demografi Indonesia. Ketika Indonesia memiliki jumlah penduduk usia produktif yang besar, sejumlah negara justru menghadapi kekurangan tenaga kerja akibat fenomena penuaan penduduk atau aging population," ucapnya.
Mukhtarudin menambahkan, pelatihan dalam Program SMK Go Global sepenuhnya dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pembiayaan tersebut merupakan bentuk komitmen Kementerian P2MI untuk menghadirkan pelatihan berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja internasional.
*Targetkan 2.000 Kelas Pelatihan*
Untuk memperluas jangkauan program, Kementerian P2MI menargetkan pembentukan 2.000 kelas pelatihan di 23 wilayah kerja BP3MI. UKRI menjadi salah satu mitra pelaksana program dengan kegiatan pelatihan yang telah berlangsung sejak awal September 2026.
Kementerian P2MI juga menetapkan target penempatan pekerja migran melalui Program SMK Go Global secara bertahap, yakni 40.000 orang pada 2026, 140.000 orang pada 2027, 180.000 orang pada 2028, dan 140.000 orang pada 2029.
Program ini berlandaskan Asta Mandala SMK Go Global yang tidak hanya berorientasi pada jumlah pekerja migran yang diberangkatkan. Pemerintah mendorong pencapaian Panca Sukses, meliputi sukses kompetensi, sukses pelindungan, sukses penempatan, sukses remitansi, dan sukses tata kelola.
Kelima sasaran tersebut diharapkan menghasilkan Tri Dampak, yakni dampak sosial, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan dampak ekonomi.
Mukhtarudin pun berpesan agar peserta memanfaatkan pelatihan dengan sungguh-sungguh dan terus meningkatkan keterampilan sesuai bidang masing-masing. Ia menegaskan, penyiapan kompetensi sejak dari dalam negeri merupakan bagian penting dari pelindungan pekerja migran agar mereka dapat bekerja melalui jalur resmi serta terhindar dari risiko penempatan nonprosedural.
Sementara itu, Wakil Rektor II UKRI Erdiansyah berharap pelaksanaan SMK Go Global menjadi awal kolaborasi yang lebih konkret dan berkelanjutan antara UKRI, Kementerian P2MI, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, BP3MI Jawa Barat, Dinas Tenaga Kerja, serta pemangku kepentingan lainnya.
Ia menilai, sinergi pemerintah dan perguruan tinggi diperlukan untuk membangun ekosistem pendidikan dan pelatihan yang mampu menjawab kebutuhan tenaga kerja global.
Melalui Program SMK Go Global, pemerintah berharap tenaga kerja Indonesia semakin siap memanfaatkan peluang kerja internasional dengan keterampilan yang sesuai, sekaligus memperoleh pelindungan dalam setiap tahapan migrasi kerja.










