TVRINews, Papua Barat Daya
Tim Ekspedisi Patriot (TEP) IV Universitas Brawijaya membangun Rumah Bibit Tangguh Iklim di Kampung Persiapan Klawosom, Kawasan Transmigrasi Klamono–Segun, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya. Fasilitas ini menjadi upaya memperkuat kemandirian masyarakat transmigran dalam mengembangkan pertanian produktif dan berkelanjutan.
Rumah bibit tersebut dibangun untuk mendukung perawatan hampir 3.000 bibit tanaman hortikultura, khususnya buah-buahan, serta tanaman kayu yang didatangkan ke kawasan tersebut. Kehadiran fasilitas ini diharapkan dapat meningkatkan keberhasilan pembibitan sekaligus meminimalkan risiko kematian tanaman.
Warga transmigran Klawosom, Lorentius G. Ile Kolin, mengaku mendapatkan pengetahuan baru mengenai teknik pembibitan dan sistem agroforestri melalui program pendampingan TEP.
"Sejak ada program Tim Patriot, kami baru mengenal pembibitan seperti ini. Kami juga belajar bahwa jarak tanam perlu diatur dalam sistem agroforestri. Kami sangat merasakan manfaat program ini dan berharap tim dapat kembali lagi," ujar Lorentius dalam keterangan tertulis yang diterima tvrinews.com, dikutip dari siaran pers, Sabtu, 7 November 2026.
Rumah bibit dilengkapi tiga profile tank dengan kapasitas total 3.350 liter, sistem pengairan, rumah produksi, gudang penyimpanan, mesin pencacah, tiga tong biochar, serta berbagai peralatan pendukung lainnya.
Selain menyediakan fasilitas, TEP IV Universitas Brawijaya juga memberikan pelatihan kepada masyarakat, mulai dari pengolahan media tanam, perbanyakan bibit melalui teknik grafting atau sambung pucuk, pembuatan kompos berbahan lokal, hingga produksi biochar sebagai pembenah tanah.
Untuk memastikan keberlanjutan program, masyarakat juga didorong membentuk kelembagaan pengelola. Dua kelompok tani yang dibentuk yakni Kuk Mala Fai Tunas Muda dan Olom Fagu, serta satu Kelompok Wanita Tani (KWT) Sinagi.
Ketiga kelompok tersebut disiapkan untuk mengelola rumah bibit dan mengembangkan sistem agroforestri bersama masyarakat. Program ini menyasar lebih dari 600 kepala keluarga, termasuk 60 anggota kelompok tani dan KWT.
Pengiriman bibit dimulai pada 7 Oktober 2026. Sementara itu, pendampingan dan pengembangan program berlangsung hingga penarikan tim pada akhir November 2026.

Ketua TEP IV Universitas Brawijaya, Syamsul Arifin, berharap pengembangan rumah bibit dapat terus berlanjut melalui penerapan sistem agroforestri yang sesuai dengan pola pertanian masyarakat setempat.
"Besar harapan kami program ini terus berlanjut melalui penerapan sistem agroforestri intensif yang sesuai dengan pola bertani masyarakat Klawosom," tutur Syamsul.
Pengembangan rumah bibit ini juga sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperbanyak pusat pembibitan pohon di berbagai daerah. Prabowo sebelumnya menekankan pentingnya penyediaan benih pohon berkualitas bagi seluruh kota dan kabupaten di Indonesia.
"Bikin nursery-nursery, saya butuh benih-benih pohon yang bagus untuk semua kota dan kabupaten kita," kata Prabowo saat peresmian akad massal rumah subsidi dan KUR Perumahan di Batang, 30 Juli 2026.
Sejalan dengan hal tersebut, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan.
"Prosperity saja tidak cukup, harus diimbangi dengan sustainability," ucap AHY dalam Lestari Summit 2026 pada 22 Juli 2026.
Sementara itu, Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menekankan bahwa pemberdayaan masyarakat harus menjadi prioritas dalam pembangunan kawasan transmigrasi, terutama melalui transfer pengetahuan dan teknologi.
"Kata kuncinya adalah pemberdayaan dan keberdayaan, yang jauh lebih penting daripada bantuan yang sifatnya instan," imbuh iftitah saat meninjau Kawasan Transmigrasi Klamono–Segun pada 31 Oktober 2026.
Melalui pembangunan rumah bibit, pelatihan keterampilan, dan pembentukan kelompok pengelola, masyarakat Klawosom diharapkan mampu melanjutkan kegiatan pembibitan secara mandiri. Upaya ini sekaligus menjadi langkah untuk memperkuat produktivitas pertanian dan menjaga keberlanjutan lingkungan di kawasan transmigrasi.










