TVRINews, Jakarta
Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menginstruksikan perubahan metode pembangunan sabo dam di kawasan Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Langkah tersebut dilakukan untuk meminimalkan risiko kerusakan konstruksi akibat erupsi maupun terjangan banjir lahar dingin yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Perubahan pola kerja ini menjadi bagian dari upaya Kementerian PU dalam memperkuat mitigasi bencana sekaligus memastikan pembangunan infrastruktur pengendali sedimen di kawasan Semeru berjalan lebih aman dan efektif.
Dody menjelaskan, pengerjaan konstruksi sabo dam ke depan tidak lagi sepenuhnya dilakukan langsung di titik pembangunan yang berada di alur sungai. Sebaliknya, sejumlah komponen konstruksi akan disiapkan terlebih dahulu di lokasi yang relatif aman dan tidak jauh dari area proyek.
Setelah seluruh komponen siap, proses pemasangan akan dilakukan secara bertahap di lokasi pembangunan.
"Pola pengerjaannya harus kita ubah. Pekerjaan bisa dilakukan terlebih dahulu di luar titik sabo dam, di lokasi yang lebih aman dan tidak terlalu jauh. Setelah siap, baru secara bertahap dipasang ke titik pembangunan," ujar Dody dalam keterangan yang dikutip, Sabtu, 7 November 2026.
Menurutnya, penerapan metode tersebut penting untuk mengurangi potensi kerugian apabila aktivitas vulkanik Semeru kembali meningkat dan memicu aliran lahar dingin saat pekerjaan berlangsung.
"Jadi, apabila terjadi erupsi atau banjir lahar dingin saat proses pengerjaan, risiko kerusakan terhadap hasil pekerjaan dan material yang sudah disiapkan bisa kita minimalkan," tegasnya.
Pembangunan sabo dam sendiri merupakan salah satu infrastruktur penting untuk mengendalikan aliran material vulkanik, menekan ancaman banjir lahar dingin, serta melindungi permukiman dan fasilitas umum di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Semeru.
Di tengah upaya memperkuat mitigasi jangka panjang, Kementerian PU juga terus melakukan penanganan darurat terhadap sejumlah infrastruktur yang terdampak aktivitas Gunung Semeru.
Berdasarkan data realisasi pekerjaan hingga 6 November 2026, penanganan difokuskan pada tiga kawasan, yakni Sumbersari, Tempursari, dan Jugosari di Desa Sumberwuluh. Di kawasan Sumbersari, pekerjaan diarahkan pada pemulihan tanggul yang mengalami kerusakan sepanjang sekitar 45 meter dengan tinggi mencapai 8 meter. Perbaikan telah dilakukan hingga ketinggian 6 meter.
Selain itu, petugas juga melakukan peninggian tanggul akses masuk alat berat sekitar 0,5 meter, dengan panjang pengerjaan 15 meter dan lebar 3 meter. Satu unit excavator dikerahkan untuk mendukung pekerjaan tersebut. Sementara di Tempursari, penanganan dilakukan melalui pembangunan tanggul darurat dan pengalihan alur sungai sepanjang 600 meter.
Upaya lainnya mencakup perbaikan jalan warga yang terputus sepanjang 150 meter serta penutupan alur sungai dari arah hulu guna membantu mengendalikan aliran air. Pekerjaan di lokasi ini didukung dua unit excavator.
Adapun di kawasan Jugosari, pembangunan difokuskan pada jalan dan tanggul darurat sepanjang 400 meter, termasuk peninggian tanggul sekitar satu meter. Untuk pembangunan jalan darurat, progres pengerjaan telah mencapai 50 meter dari total rencana sepanjang 180 meter.
Secara keseluruhan, penanganan darurat di ketiga lokasi tersebut melibatkan empat unit excavator guna mempercepat pemulihan infrastruktur terdampak.
Kementerian PU terus mengoptimalkan penanganan di lapangan sekaligus mengevaluasi metode pembangunan infrastruktur pengendali sedimen agar lebih tangguh menghadapi potensi bencana susulan.










