TVRINews, Jakarta
Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar menegaskan komitmennya dalam memperkuat pengawasan di lingkungan pondok pesantren sekaligus memastikan tidak ada toleransi terhadap segala bentuk kekerasan, termasuk kekerasan seksual.
Penegasan ini disampaikan di tengah maraknya hoaks di media sosial yang mengaitkan kasus kekerasan seksual dengan dirinya. Menag menilai, informasi yang beredar tersebut merupakan disinformasi yang sengaja dipelintir dan berpotensi memecah belah masyarakat.
"Sikap saya terkait tindak kekerasan seksual itu jelas dan tegas. Tidak ada toleransi untuk tindak kekerasan seksual. Saya tidak pernah menoleransi sedikit pun tindakan yang mencederai martabat kemanusiaan," ujar Nasaruddin dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Rabu, 6 Mei 2026.
Menurutnya, kekerasan seksual bukan hanya pelanggaran hukum, tetapi juga bertentangan dengan nilai moral dan kemanusiaan. Karena itu, ia menegaskan bahwa seluruh elemen masyarakat harus menjadikannya sebagai musuh bersama.
Dalam upaya pencegahan, Kementerian Agama telah memperkuat regulasi serta mekanisme pembinaan di satuan pendidikan keagamaan, khususnya pondok pesantren.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah pembentukan satuan pembinaan pesantren yang melibatkan pimpinan lembaga untuk meningkatkan pengawasan dan mencegah penyimpangan.
"Ini akan menjadi perhatian kami, terutama terkait pondok pesantren. Kami sudah membentuk satuan pembinaan yang berkolaborasi dengan pimpinan pesantren untuk mengawasi dan mencegah penyimpangan yang terjadi," tegasnya.
Kemudian, Menag juga menekankan bahwa lembaga pendidikan keagamaan harus menjadi ruang yang aman dan bermartabat bagi peserta didik. Ia berharap pesantren dapat menjadi contoh ideal dalam menciptakan lingkungan belajar yang bebas dari kekerasan.
Di sisi lain, ia mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menyikapi informasi di ruang digital. Literasi dan kehati-hatian dalam menerima serta menyebarkan informasi dinilai penting untuk memutus rantai hoaks.
"Mari menjadi pemutus rantai hoaks dengan saring sebelum sharing. Cerdas bermedia sosial adalah cara kita menjaga kedamaian bersama," ucapnya.










