TVRINews, Jakarta
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggelar sosialisasi bertajuk “Memahami Potensi Karhutla Berbasis Informasi Cuaca melalui SPARTAN” secara daring, Selasa, 23 Juni 2026. Kegiatan ini bertujuan memperkenalkan pemanfaatan sistem SPARTAN sebagai dukungan informasi meteorologi dalam meningkatkan pemahaman dan kesiapsiagaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Deputi Bidang Meteorologi , Andri Ramdhani, dalam sambutannya menyampaikan bahwa karhutla masih menjadi salah satu tantangan serius di Indonesia karena dampaknya yang luas terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat, dan aktivitas sosial.
“Salam sejahtera bagi kita semua yang hadir di webinar ini perwakilan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana di Kementerian itu Kementerian BPBD provinsi wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan jajaran BMKG rekan-rekan media seluruh peserta sosialisasi yang berbahagia,”kata Andri dalam keterangan yang diterima tvrinews melalui zoom BMKG, Selasa, 23 Juni 2026.
Ia juga menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan secara virtual.
Dalam paparannya, Andri menegaskan pentingnya upaya pencegahan dan kesiapsiagaan melalui pemanfaatan informasi cuaca yang akurat. BMKG, kata dia, terus mengembangkan sistem informasi untuk mendukung mitigasi bencana, salah satunya melalui SPARTAN (Sistem Peringatan Dini Karhutla).
“Karhutla masih menjadi salah satu tantangan yang perlu mendapat perhatian bersama karena dampaknya yang luas terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat, dan aktivitas sosial. Oleh karena itu, upaya pencegahan dan kesiapsiagaan perlu terus diperkuat melalui pemanfaatan berbagai informasi, termasuk informasi meteorologi,”jelasnya.
Ia menjelaskan, SPARTAN merupakan platform informasi peringatan dini yang menyediakan gambaran tingkat bahaya kebakaran hutan dan lahan berdasarkan kondisi cuaca yang mendukung terjadinya karhutla. Karena itu, pemahaman terhadap informasi tersebut menjadi penting agar dapat dimanfaatkan secara tepat dalam upaya mitigasi.
“Pemahaman yang tepat terhadap informasi ini sangat penting agar pemanfaatannya sesuai dengan tujuan dan konsep yang dimaksud, terutama dalam konteks mitigasi bencana,” lanjutnya.
Andri juga menekankan pentingnya kesamaan persepsi antara BMKG, kementerian/lembaga, pemerintah daerah, serta pemangku kepentingan lainnya dalam memahami dan memanfaatkan informasi SPARTAN. Dengan demikian, informasi yang tersedia dapat digunakan secara optimal untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap potensi karhutla.
Melalui kegiatan sosialisasi ini, BMKG berharap terbangun kolaborasi yang lebih kuat antarinstansi dalam upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Dukungan media dan sinergi lintas sektor dinilai menjadi faktor penting dalam memperkuat sistem mitigasi bencana.
Di akhir sambutannya, Andri secara resmi membuka kegiatan sosialisasi tersebut.
“Bismillahirrahmanirrahim kegiatan sosialisasi memahami potensi karhutla berbasis informasi cuaca melalui SPARTAN secara resmi saya nyatakan dibuka. Selamat mengikuti kegiatan sosialisasi, semoga memberikan manfaat dan memperkuat kerja sama dalam mendukung upaya pencegahan dan kesiapsiagaan karhutla,” pungkasnya.










