TVRINews – Jakarta
Pemerintah percepat kedaulatan gizi melalui pembangunan 20.000 Kampung Nelayan Merah Putih untuk memperkuat rantai pasok.
Setelah meraih capaian swasembada komoditas karbohidrat, Pemerintah Indonesia kini mengalihkan fokus strategis pada pemenuhan kebutuhan protein nasional. Kebijakan ini menjadi langkah krusial untuk memperbaiki profil gizi masyarakat secara menyeluruh.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen memperluas cakupan ketahanan pangan dari sekadar pemenuhan kalori menjadi pemenuhan nutrisi yang lebih berkualitas. Fokus utama saat ini menyasar sektor perikanan dan peternakan unggas.
"Tahun ini, prioritas kami adalah swasembada protein, yang meliputi ikan, udang, telur, dan ayam," ujar Zulkifli Hasan dalam sesi Economic Update 2026. Dikutip Rabu 23 Juni 2026.
Ia menambahkan, meski komoditas susu dan daging sapi menjadi target jangka panjang, saat ini pemerintah memilih untuk memusatkan sumber daya pada sektor yang lebih cepat dikembangkan.
Sebagai instrumen pendukung, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto akan menginisiasi program Kampung Nelayan Merah Putih. Langkah ini dirancang untuk memutus rantai kendali tengkulak yang selama ini menekan harga di tingkat nelayan.
Pemerintah menargetkan pembangunan 20.000 unit Kampung Nelayan Merah Putih sepanjang tahun 2026. Setiap lokasi akan dilengkapi dengan ekosistem terpadu, mencakup Koperasi Nelayan, Balai Lelang Ikan, pabrik es, hingga fasilitas gudang pendingin (cold storage).
Infrastruktur ini diharapkan mampu menjaga kualitas hasil tangkapan sekaligus memberikan daya tawar lebih baik bagi nelayan. Lebih lanjut, Koperasi Nelayan Merah Putih akan berfungsi sebagai offtaker pembeli siaga yang memastikan hasil tangkapan terserap dengan harga yang adil.
Sinergi ini juga akan memperkuat rantai distribusi domestik. Nantinya, hasil tangkapan yang diserap koperasi akan dipasok langsung untuk mendukung program pemenuhan gizi melalui Badan Gizi Nasional. Strategi ini diharapkan tidak hanya mendorong produktivitas nelayan, tetapi juga menjadi tulang punggung baru bagi ketahanan gizi nasional.










