TVRINews, Jakarta
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan konsep dasar terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta pemanfaatan sistem peringatan dini SPARTAN dalam mendukung mitigasi bencana berbasis data cuaca.
Hal itu disampaikan Ketua Tim Analisis dan Pengelolaan Citra Satelit serta Deteksi Petir Direktorat Meteorologi Publik BMKG, Alpon Sepriando, dalam kegiatan sosialisasi sistem SPARTAN di Jakarta.
Alpon menjelaskan bahwa kebakaran hanya dapat terjadi apabila tiga unsur segitiga api terpenuhi, yakni sumber panas (ignition), oksigen, dan bahan bakar (fuel) dalam kondisi kering.

“Api hanya dapat menyala jika terjadi interaksi sempurna antara tiga unsur segitiga api, yaitu sumber panas, oksigen, dan bahan bakar dalam kondisi kering,”kata Alpon dalam keterangan yang diterima tvrinews, Selasa, 23 Juni 2026.
SPARTAN Hanya Modelkan Dua Unsur Kebakaran
Ia menerangkan, sistem SPARTAN atau Fire Danger Rating System (FDRS) yang dikembangkan BMKG hanya memodelkan dua unsur utama, yaitu kondisi cuaca yang memengaruhi kekeringan bahan bakar serta suplai oksigen yang dipengaruhi kecepatan angin.
Parameter tersebut diwakili oleh indeks seperti Fine Fuel Moisture Code (FFMC), Duff Moisture Code (DMC), dan Drought Code (DC) untuk kelembapan bahan bakar, serta Initial Spread Index (ISI) untuk kecepatan angin.
Namun demikian, SPARTAN tidak mendeteksi unsur ketiga, yaitu sumber panas atau pemicu awal kebakaran.
Tidak Semua Area Merah Berarti Terbakar
Alpon menegaskan bahwa peta berwarna merah pada sistem SPARTAN tidak serta-merta menunjukkan adanya kebakaran di wilayah tersebut. Warna tersebut hanya menggambarkan potensi kemudahan bahan bakar untuk terbakar jika terdapat pemicu api.
“Jika suatu wilayah berwarna merah, itu bukan berarti sudah terjadi kebakaran. Kebakaran tetap membutuhkan sumber penyulut, baik dari aktivitas manusia maupun faktor alam,”tambahnya.
Ia menambahkan, bahkan di wilayah perkotaan yang tidak memiliki vegetasi, potensi kebakaran tetap tidak akan terjadi meskipun indikator cuaca menunjukkan warna merah, karena tidak adanya bahan bakar.
Empat Parameter Utama SPARTAN
Sistem SPARTAN bekerja dengan mengolah empat parameter cuaca utama, yakni kecepatan angin, kelembapan udara (RH), curah hujan, dan suhu udara.
Data tersebut kemudian menghasilkan beberapa indeks turunan, di antaranya FFMC, DMC, DC, ISI, BUI, hingga Fire Weather Index (FWI), yang digunakan untuk menggambarkan potensi perilaku api.
Menurut Alpon, sistem ini merupakan adaptasi dari Fire Weather Index (FWI) Kanada yang telah dikalibrasi sesuai kondisi cuaca di Indonesia.
Indeks untuk Analisis Perilaku Api
Ia menjelaskan, setiap indeks memiliki fungsi berbeda dalam menggambarkan kondisi bahan bakar di berbagai lapisan, mulai dari permukaan hingga lapisan bawah tanah. Kombinasi indeks tersebut digunakan untuk memperkirakan tingkat kemudahan terbakar, kecepatan penyebaran api, hingga tingkat pengendalian kebakaran.
“Indeks ini menggambarkan kondisi kekeringan bahan bakar dan potensi penyebaran api, bukan lokasi titik api,”ucapnya.
SPARTAN Sebagai Sistem Peringatan Dini
Lebih lanjut, Alpon menyebutkan bahwa SPARTAN merupakan sistem peringatan dini yang menyediakan informasi potensi karhutla hingga tujuh hari ke depan melalui portal daring BMKG.
Sistem ini tersedia dalam dua format, yakni platform interaktif dan versi ringan, yang dapat digunakan sesuai kebutuhan pengguna, termasuk pemerintah daerah dan instansi terkait.
BMKG berharap pemanfaatan sistem ini dapat mendukung pengambilan keputusan dalam upaya pencegahan dan mitigasi karhutla secara lebih cepat dan akurat.
“Informasi ini dapat digunakan untuk mendukung upaya pencegahan, kesiapsiagaan, dan mitigasi secara lebih efektif,”pungkasnya.










