TVRINews, Papua
Pemerintah berkomitmen penuh untuk mendorong transformasi ekonomi di Tanah Papua dengan melanjutkan berbagai bantuan di sektor hilirisasi komoditas unggulan daerah. Langkah strategis ini diarahkan untuk memperluas nilai tambah ekonomi dan membuka ruang pertumbuhan baru bagi masyarakat, sehingga Papua tidak lagi hanya berfokus pada produksi bahan mentah melainkan mampu bergerak menuju tahap industri pengolahan yang berkelanjutan.
Program penguatan komoditas terintegrasi dari hulu ke hilir tersebut turut menjadi salah satu sorotan utama dalam rangkaian kunjungan kerja Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming di Papua Barat. Melalui momentum ini, pemerintah sekaligus menegaskan pentingnya optimalisasi Dana Otonomi Khusus (Otsus) agar langsung memberikan dampak nyata pada kesejahteraan masyarakat di tingkat lokal.
“Ini adalah hasil dari implementasi Dana Otsus yang baik. Tetapi yang paling penting bukan hanya pembangunan fisik yang terlihat, melainkan bagaimana hasilnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat di kampung-kampung, termasuk peningkatan pendapatan, pembukaan lapangan kerja, serta tumbuhnya aktivitas ekonomi baru di tingkat lokal,” tegas Wakil Menteri Dalam Negeri, Ribka Haluk.
Ribka Haluk menambahkan bahwa kebijakan hilirisasi menjadi kunci krusial agar perputaran nilai ekonomi tidak mengalir keluar, melainkan berputar di dalam wilayah Papua. Dengan masuk ke dalam rantai nilai industri yang lebih tinggi, pertumbuhan ekonomi yang tercipta diyakini akan memberikan dampak yang jauh lebih luas bagi Orang Asli Papua (OAP).
Sejalan dengan arah transformasi ekonomi tersebut, pengembangan komoditas lokal di tingkat akar rumput juga mulai berjalan adaptif menggunakan pendekatan yang menyentuh komunitas. Salah satunya terlihat pada program pengembangan tanaman sagu yang disesuaikan dengan karakter wilayah setempat.
“Yang di sini lebih ke memperkuat aspek lokal. Jadi, kalau yang di Meranti itu teknologi industri sagu untuk skala besar. Yang di sini skala lokal, lebih banyak pendekatan budaya. Sekaligus mengembangkan hilirisasinya,” ujar Penanggung Jawab Sekolah Lapang Sagu Keuskupan Agats, Anton.
Dukungan nyata pemerintah dalam menjaga keberlanjutan sektor hilirisasi perkebunan rakyat ini dibuktikan melalui alokasi anggaran yang terus ditingkatkan secara berkala oleh Kementerian Pertanian untuk memperkuat produktivitas lahan di berbagai kabupaten.
“Tahun ini Rp3,2 triliun, tahun lalu Rp2 triliun. Totalnya Rp5,5 triliun lebih. Kami laporkan kepada Bapak Presiden dan beliau mengatakan bantuan ini dilanjutkan,” kata Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman.
Mentan menjelaskan bahwa program berskala masif dengan cakupan lahan hingga ratusan ribu hektare ini melibatkan seluruh kabupaten di Papua. Dengan adanya jaminan kelanjutan bantuan dari pemerintah pusat, transformasi dari produsen bahan mentah menuju daerah penghasil produk bernilai tambah diharapkan menjadi fondasi kokoh demi terwujudnya pemerataan pembangunan yang inklusif di seluruh bumi Cendrawasih.










