TVRINews, Jakarta
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menekankan pentingnya pemanfaatan informasi cuaca dalam memahami potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hal ini disampaikan dalam kegiatan Sosialisasi “Memahami Potensi Karhutla Berbasis Informasi Cuaca melalui SPARTAN”.
Pelaksana Harian (Plh) Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardani, menjelaskan bahwa Indonesia memiliki dua jenis ancaman bencana hidrometeorologi, yakni basah seperti banjir dan longsor, serta kering yang meliputi kekeringan dan karhutla.

(Foto: Pelaksana Harian (Plh) Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardani)
“Ancaman bencana hidrometeorologi tidak hanya yang bersifat basah akibat hujan lebat seperti banjir dan longsor, tetapi juga hidrometeorologi kering seperti kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan,”kata Ida dalam keterangan yang diterima tvrinews, Selasa, 23 Juni 2026.
Ia menegaskan bahwa potensi karhutla meningkat signifikan saat memasuki musim kemarau, terutama pada periode Juni hingga September. Kondisi tersebut dapat berdampak pada lingkungan, kualitas udara, kesehatan masyarakat, hingga transportasi akibat sebaran asap lintas wilayah.
Karhutla Meningkat Saat Musim Kemarau
Ida menyebutkan, pola musim di Indonesia turut memengaruhi risiko karhutla. Pada Desember hingga Februari, sebagian besar wilayah mengalami musim hujan, sementara masa peralihan terjadi pada Maret–Mei dan September–November. Adapun puncak musim kemarau berlangsung pada Juni–Agustus yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran lahan.
Menurutnya, pemahaman terhadap informasi cuaca menjadi kunci dalam upaya pencegahan dan mitigasi bencana.
“Kita perlu memahami bagaimana menginterpretasikan informasi yang sudah disiapkan oleh BMKG agar dapat digunakan dalam penanggulangan bencana, khususnya karhutla,”tambahnya.
Peran SPARTAN dan FDRS
Dalam kesempatan tersebut, BMKG juga memperkenalkan sistem SPARTAN sebagai platform informasi cuaca yang dapat digunakan untuk memantau potensi karhutla. Melalui sistem ini, masyarakat dapat mengakses data tingkat kemudahan terbakar di berbagai lapisan permukaan.
Selain SPARTAN, BMKG juga memanfaatkan Fire Danger Rating System (FDRS) atau sistem peringatan tingkat kemudahan terbakar yang telah dikembangkan sejak lama melalui kerja sama internasional, termasuk dengan Kanada.
Ida menjelaskan, sistem FDRS telah mengalami pengembangan panjang sejak akhir 1990-an dan kini terus diperbarui melalui kolaborasi lintas lembaga, termasuk BMKG, Kementerian Kehutanan, serta mitra internasional.
“FDRS bukan produk baru, tetapi sudah dikembangkan sejak lama melalui kerja sama internasional dan terus disempurnakan hingga saat ini,”ucapnya.
Saat ini, BMKG juga telah mengembangkan produksi informasi potensi karhutla hingga tiga hari ke depan yang dapat diakses melalui sistem daring dan modul sinergi.
Penguatan Sistem dan Kolaborasi
BMKG menegaskan bahwa pengembangan layanan informasi karhutla terus dilakukan, termasuk peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pelatihan teknis, serta integrasi model prediksi di sejumlah wilayah rawan seperti Riau, Kalimantan, dan Jambi.
Selain itu, BMKG juga mengembangkan sistem berbasis model numerik dan memperluas pemanfaatan data satelit untuk mendukung prediksi dan mitigasi karhutla secara lebih akurat.
Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah dan media, dalam membaca dan memanfaatkan informasi cuaca sebagai dasar pengambilan keputusan.
Melalui penguatan sistem informasi seperti SPARTAN dan FDRS, BMKG berharap upaya mitigasi kebakaran hutan dan lahan dapat dilakukan lebih cepat, tepat, dan berbasis data.










