TVRINews, Jakarta
Kementerian Kesehatan bersama Universitas Indonesia (UI) dan mitra internasional mengembangkan studi Prevention of Household Tuberculosis with Optimal Nutrition (PHOTON) untuk menguji efektivitas dukungan nutrisi dalam mencegah tuberkulosis (TBC), terutama pada orang yang tinggal serumah dengan pasien TBC.
Studi ini dilatarbelakangi tingginya beban TBC di Indonesia. Berdasarkan Global Tuberculosis Report WHO 2025 yang disampaikan Principal Investigator PHOTON, Prof. Rina Agustina, diperkirakan terdapat 10,7 juta kasus TBC di dunia, dengan Indonesia menempati posisi kedua sebagai negara dengan beban TBC tertinggi.
Rina menjelaskan, penanggulangan TBC membutuhkan pendekatan komprehensif, mulai dari penemuan kasus, diagnosis dini, pengobatan, hingga pencegahan. Salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah hubungan antara TBC, status gizi, dan kondisi sosial ekonomi.
Menurutnya, intervensi gizi berpotensi menjadi strategi pelengkap untuk melindungi kelompok berisiko sekaligus mendukung percepatan eliminasi TBC.
Sebagai landasan ilmiah, Rina menyebut studi RATIONS di India yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet. Studi tersebut menunjukkan bahwa dukungan nutrisi dapat menurunkan kejadian TBC baru yang terkonfirmasi secara bakteriologis hingga 48 persen pada kontak serumah pasien TBC.
Temuan tersebut menjadi salah satu dasar pengembangan studi PHOTON untuk mengevaluasi efektivitas suplementasi nutrisi dalam menurunkan risiko TBC.
PHOTON akan membandingkan tiga pendekatan suplementasi nutrisi, yakni vitamin B, kombinasi vitamin B dan multimikronutrien, serta kombinasi vitamin B, multimikronutrien, dan tambahan energi.
Hasilnya akan dibandingkan dengan kelompok plasebo untuk mengetahui pendekatan yang paling efektif dalam menurunkan risiko TBC.
“Studi ini bertujuan mengevaluasi efektivitas suplementasi gizi selama enam bulan dalam menurunkan kejadian TBC yang terkonfirmasi bakteriologis, baik TBC paru maupun TBC ekstra paru pada kontak serumah pasien TBC,”kata Rina dalam keterangan yang diterima tvrinews, Kamis, 22 Oktober 2026.
Ia menjelaskan, penelitian tersebut dirancang untuk melibatkan 78.400 peserta di Indonesia dan Tanzania, dengan 42.990 peserta di antaranya berasal dari Indonesia. Pelaksanaan studi di Indonesia dipimpin Universitas Indonesia melalui Center for Global Resilience in Health and Nutrition, bekerja sama dengan Summit Institute for Development dan Universitas Oxford.
Adapun penelitian di Tanzania dipimpin oleh National Institute for Medical Research (NIMR).
Di Indonesia, studi PHOTON direncanakan berlangsung di empat wilayah, yakni Jakarta, Depok, Bogor, dan Lombok. Wilayah tersebut dipilih dengan mempertimbangkan tingginya angka TBC.
Rina mengatakan, para peserta akan dipantau selama 24 bulan melalui kunjungan rumah dan fasilitas kesehatan. Tim peneliti akan mengamati kondisi kesehatan peserta, pelaksanaan intervensi, serta tanda dan gejala TBC.
Menurutnya, keberhasilan penelitian tidak hanya ditentukan oleh kualitas ilmiah, tetapi juga dukungan pemerintah, kesiapan sistem pelayanan kesehatan, serta partisipasi dan kepatuhan peserta selama penelitian berlangsung.
“Sehingga sinergi ini menjadi kunci agar penelitian berjalan dengan baik, dan harapannya bisa diterjemahkan ke dalam kebijakan, baik nasional maupun global,”jelasnya.
Studi PHOTON mendapat dukungan dan koordinasi Kementerian Kesehatan serta dukungan pendanaan dari Gates Foundation, Wellcome Trust, dan Novo Nordisk Foundation.
Rina berharap penelitian tersebut dapat menghasilkan publikasi ilmiah dan bukti yang menjadi dasar penguatan strategi pencegahan TBC, sekaligus mendukung percepatan eliminasi TBC di Indonesia dan dunia.
Ia juga menegaskan bahwa penelitian akan mengutamakan integritas ilmiah, kualitas penelitian, serta perlindungan hak, keselamatan, martabat, dan kerahasiaan peserta sesuai protokol dan prinsip good clinical practice.
“Semoga kick-off meeting hari ini menjadi awal kolaborasi yang kuat dan berkelanjutan untuk menyukseskan PHOTON trial selama lima tahun ke depan,” tuturnya.










