TVRINews, Jakarta
World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 mengusung empat pilar utama untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif global, mulai dari pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), keberlanjutan, perlindungan kekayaan intelektual, hingga pemberdayaan komunitas.
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, mengatakan empat isu tersebut dipilih setelah melalui konsultasi publik dan diskusi bersama para pelaku ekosistem kreatif sejak tahun lalu.
"Setelah berbagai pertimbangan dan diskusi, empat topik telah dipilih untuk WCCE tahun ini," kata Riefky dalam sesi pleno WCCE 2026 di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta, Kamis, 22 Oktober 2026.
Pilar pertama adalah teknologi, AI, dan transformasi digital. Pembahasan ini akan berfokus pada bagaimana perkembangan teknologi dan AI dapat memperkuat kreativitas manusia melalui pendekatan yang berpusat pada manusia (human-centric), bukan menggantikan peran masyarakat.
Pilar kedua, keberlanjutan, sirkularitas, dan desain regeneratif menyoroti praktik lokal dan tradisional yang dapat menjadi inspirasi dalam membangun praktik ekonomi kreatif yang berkelanjutan dan regeneratif.
Selanjutnya, pilar ketiga adalah kekayaan intelektual, ekonomi kreatif, dan hak kreatif. Pilar ini menekankan pentingnya sistem perlindungan hak kekayaan intelektual yang adil dan transparan, termasuk pemberian remunerasi yang adil bagi para kreator.
Adapun pilar keempat, inklusi, ekosistem kreatif, dan pemberdayaan komunitas, bertujuan memastikan suara masyarakat daerah dan komunitas turut didengar serta dilibatkan sebagai mitra dalam penentuan kebijakan ekonomi kreatif.
"Keempat pilar ini akan membentuk tulang punggung Jakarta Vision on Creative Economy, yang akan kita deklarasikan bersama sebagai potret dari setiap orang di ruangan ini," ucapnya.
Menurutnya, ekonomi kreatif tidak hanya berperan dalam menciptakan karya, tetapi juga membuka lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan identitas dan cerita mereka.
Berdasarkan data yang disampaikan Riefky, ekspor barang dan jasa kreatif dunia mencapai sekitar 1,7 triliun dolar AS pada 2024. Sementara di Indonesia, sektor ekonomi kreatif berkontribusi sekitar 7,38 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) dan menyerap 27,4 juta tenaga kerja.
WCCE 2026 mengangkat tema Inclusively Creative, Collective Continuity, yang menekankan pentingnya kolaborasi pemerintah, kreator, pelaku bisnis, akademisi, komunitas, dan media dalam memperkuat ekonomi kreatif yang inklusif dan berkelanjutan.
Konferensi yang digelar di Jakarta ini diikuti delegasi dari lebih dari 80 negara, tujuh organisasi internasional, 38 kepala delegasi yang terdiri atas menteri dan perwakilan tingkat tinggi, serta 182 pembicara dan moderator. Kegiatan tersebut juga melibatkan lebih dari 6.000 partisipan dan 50 pemimpin pemerintah daerah dari Indonesia.
Melalui WCCE 2026, Indonesia mendorong penguatan kolaborasi internasional agar ekonomi kreatif semakin mendapat tempat dalam pengambilan keputusan global dan menjadi bagian penting dari pembangunan berkelanjutan.










