TVRINews, Jakarta
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono mendukung penelitian Photon Study yang mengkaji peran nutrisi dalam pencegahan dan pengobatan tuberkulosis (TB). Penelitian tersebut diharapkan menghasilkan bukti ilmiah mengenai manfaat suplementasi mikronutrien dan keseimbangan asupan protein untuk meningkatkan efektivitas penanganan TB.
Dante mengatakan, Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam penanggulangan TB, meskipun berbagai upaya telah dilakukan, mulai dari pengobatan hingga pengembangan alat diagnosis.
“Kita sudah bekerja keras melawan TB, tapi kenyataannya adalah kita masih nomor dua dengan angka TB terbanyak di seluruh dunia,” ujar Dante dalam sambutannya pada peluncuran Uji Klinik PHOTON (Prevention of Household Tuberculosis with Optimal Nutrition) di Jakarta, Kamis, 22 Oktober 2026.
Ia menyebutkan, berdasarkan estimasi pada 2024, sekitar satu juta orang di Indonesia mengalami TB dan 126 ribu orang di antaranya meninggal dunia. Angka tersebut menunjukkan bahwa satu dari setiap 10 kasus TB di dunia berada di Indonesia.
Menurut Dante, tingginya angka kasus TB menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih luas untuk melengkapi upaya pengobatan medis, termasuk melalui intervensi nutrisi.
“Setiap tahun lebih dari satu juta orang jatuh sakit karena tuberkulosis. Beberapa di antaranya akhirnya wafat, tidak tertolong, karena keterlambatan pengobatan dan optimalisasi pengobatan tidak maksimal,”jelasnya.
Dante menjelaskan, pemerintah terus meningkatkan upaya penemuan kasus TB melalui berbagai program, termasuk integrasi skrining TB dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG). Selain itu, penelusuran kontak serumah juga dilakukan untuk menemukan kasus sedini mungkin.
Namun, ia mengakui bahwa penelusuran kontak serumah masih perlu ditingkatkan. Dalam sambutannya, Dante menyebut capaian penjangkauan baru mencapai 19,7 persen dari target 80 persen.
Penelitian Libatkan Lebih dari 40 Ribu Partisipan
Photon Study merupakan penelitian yang akan berlangsung selama lima tahun dengan melibatkan lebih dari 40 ribu partisipan dari Jakarta, Bogor, Depok, dan Lombok. Penelitian ini juga dilaksanakan bersama mitra peneliti di Tanzania.
Studi tersebut mendapat dukungan dari sejumlah lembaga internasional, termasuk Gates Foundation, Wellcome Trust, dan Novo Nordisk.
Dante berharap penelitian ini dapat memberikan bukti ilmiah untuk mengembangkan pendekatan baru dalam pencegahan dan pengobatan TB, khususnya melalui suplementasi mikronutrien dan keseimbangan asupan protein.
“Penelitian ini mempunyai arti penting. Pertama, kita menjadi bukti bahwa menentukan arah kita pada pengobatan dan peningkatan terapi TB di masa depan yang lebih agresif, yang selama ini kita tidak bisa kejar hanya dengan pengobatan medis saja,”ucapnya.
Ia menambahkan, intervensi nutrisi berpotensi menjadi pendekatan pendamping pengobatan medis bagi pasien TB. Meski demikian, manfaatnya perlu dikaji melalui penelitian yang terukur dan berbasis bukti.
“Mungkin nutrisi adalah salah satu jawaban yang akan mendampingi pengobatan TB secara medikamentosa,”tambahnya.
Penanggulangan TB Membutuhkan Kolaborasi
Dante menegaskan, penanggulangan TB tidak dapat hanya mengandalkan Kementerian Kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan. Keterlibatan akademisi, sektor swasta, pemerintah daerah, serta masyarakat juga diperlukan untuk memperluas jangkauan upaya pencegahan dan pengobatan.
Ia mengapresiasi para peneliti yang terlibat dalam Poton Study serta lembaga-lembaga internasional yang mendukung pelaksanaan penelitian tersebut di Indonesia dan Tanzania.
Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi bagian penting dalam menghasilkan bukti ilmiah yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas penanganan TB pada masa mendatang.
“Harapan saya sederhana, mari bekerja sebagai satu tim, saling percaya, saling terbuka, dan saling menguatkan, karena bukti terbaik lahir dari kolaborasi yang baik juga,” tuturnya.
Melalui penelitian tersebut, pemerintah berharap pendekatan berbasis nutrisi dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan strategi penanggulangan TB yang lebih efektif, sekaligus memperkuat kontribusi Indonesia dalam penelitian kesehatan global.










