TVRINews, Jakarta
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memperingati Hari Aksara Internasional Tahun 2026, Selasa, 8 September 2026. Peringatan tahun ini menjadi momentum untuk menegaskan kembali pentingnya literasi dalam menghadapi perubahan zaman.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengatakan, literasi saat ini memiliki makna yang lebih luas dan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis.
“Literasi hari ini adalah tentang kemampuan membaca dunia, memahami realitas sosial, lingkungan dan ekonomi, serta mengambil tindakan untuk menjadikan dunia lebih baik lagi,” ujar Mendikdasmen Mu’ti dalam kanal YouTube Kemendikdasmen, Selasa, 8 September 2026.
Mu’ti menjelaskan, perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial membuat masyarakat perlu memiliki kemampuan memahami informasi secara kritis, berpikir reflektif, serta terus belajar sepanjang hayat.
Ia mengajak masyarakat tidak sekadar menerima informasi, tetapi menelaah, mempertanyakan, dan memverifikasi informasi yang diperoleh.
“Saya ajak seluruh masyarakat Indonesia untuk menjadikan literasi sebagai bagian dari kehidupan kita, berusaha menjadi pembaca lebih kritis, tidak sekadar menerima informasi tetapi menelaah, mempertanyakan dan memverifikasi,” jelasnya.
Peringatan Hari Aksara Internasional 2026 sekaligus menandai 60 tahun sejak pertama kali diperingati pada 1966. Tahun ini, tema yang diusung adalah “Literasi untuk Sesama, Semesta dan Sejahtera.”
Tema tersebut mencakup upaya memperluas kesempatan belajar, menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan, serta meningkatkan kecakapan hidup masyarakat melalui literasi finansial dan kewirausahaan.
Sementara itu, Dirjen Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Tatang Muttaqin menilai literasi harus memberikan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat. Ia menegaskan, kemampuan membaca dan menulis harus menjadi pintu bagi masyarakat untuk lebih mandiri, memahami informasi, mengambil keputusan, dan meningkatkan kualitas hidup.

(Dirjen Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin. [Foto: Youtube Kemendikdasmen])
“Di situlah kita memahami bahwa literasi bukan kemampuan membaca huruf, literasi adalah kemampuan membaca kehidupan,” ungkap Tatang.
Menurut Tatang, tantangan literasi kini semakin luas. Masyarakat juga perlu mampu memilah informasi, menggunakan teknologi dan kecerdasan artifisial secara bijak, serta terus belajar sepanjang hayat.
Mu’ti menambahkan, penguatan literasi tidak dapat hanya dilakukan pemerintah. Peran satuan pendidikan, keluarga, pemerintah daerah, PKBM, taman bacaan masyarakat, komunitas literasi, perguruan tinggi, dunia usaha, media, dan masyarakat diperlukan untuk membangun budaya literasi di Indonesia.










