TVRINews, Jakarta
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar mengajak generasi muda Buddhis untuk berani membangun usaha dan mengembangkan bisnis di sektor ekonomi kreatif.
Menurutnya, Indonesia membutuhkan lebih banyak entrepreneur muda yang mampu menciptakan inovasi sekaligus memberikan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan.
Irene mengatakan, Kegiatan Penguatan Ekonomi Kreatif dan Kewirausahaan Pengusaha Muda Buddhis menjadi contoh kolaborasi lintas sektor dalam mendorong tumbuhnya wirausaha muda. Semangat tersebut dinilai sejalan dengan tema kegiatan, yakni Together We Grow, Collaborate & Create Impact.
"Inilah yang sangat dibutuhkan Indonesia, lebih banyak entrepreneur muda di bidang ekonomi kreatif yang bergerak dengan hati positif demi menghadirkan solusi bagi sesama dan alam," ujar Irene dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Selasa, 8 September 2026.
Irene menyebut angka kewirausahaan Indonesia saat ini baru sekitar 3,8 persen. Karena itu, ia menilai pengembangan kapasitas dan mentalitas kewirausahaan generasi muda perlu terus diperkuat.
Menurut Irene, menjadi entrepreneur bukan sekadar memiliki atau menjalankan sebuah usaha. Kewirausahaan juga membutuhkan mentalitas pantang menyerah, kepekaan dalam melihat persoalan, serta kemampuan menentukan tujuan dan mengembangkan diri.
"Entrepreneurship bukan sekadar status, melainkan mentalitas pantang menyerah, peka terhadap masalah, serta berorientasi pada tujuan, baik sebagai entrepreneur maupun intrapreneur," katanya.
Ia menambahkan, saat ini akses terhadap pengetahuan, jaringan, hingga modal investasi semakin terbuka. Karena itu, anak muda perlu memanfaatkan berbagai peluang tersebut dengan kemauan untuk terus belajar, mencoba, dan mengembangkan diri secara bijak.
Lebih lanjut, Irene menegaskan bahwa Kementerian Ekraf berkomitmen memperkuat ekosistem ekonomi kreatif melalui kolaborasi lintas sektor. Upaya tersebut dilakukan antara lain dengan meningkatkan kapasitas pelaku usaha kreatif, memperluas jejaring pemasaran, serta mendorong promosi karya kreatif Indonesia ke tingkat global.
Kemudian, ia juga menekankan pentingnya pendekatan heksaheliks yang melibatkan pemerintah, asosiasi, akademisi, media, pelaku bisnis, hingga lembaga keuangan. Kolaborasi tersebut dinilai dapat menjadi fondasi untuk menghidupkan ekonomi daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.










