TVRINews, Jakarta
UNESCO menegaskan literasi tetap menjadi kemampuan fundamental yang penting bagi masyarakat, termasuk di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI).
Hal itu disampaikan Chief of Education UNESCO Regional Office for Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, the Philippines and Timor-Leste Santosh Khatri, dalam peringatan Hari Literasi Internasional 2026 di Indonesia.
Ia mengatakan, peringatan tahun ini menjadi momentum istimewa karena bertepatan dengan 60 tahun Hari Literasi Internasional. Selama enam dekade, UNESCO menempatkan literasi sebagai hak dasar manusia yang berkaitan dengan pembelajaran, partisipasi masyarakat, martabat, serta pemenuhan hak-hak lainnya.
Menurutnya, dunia telah mencatat kemajuan dalam literasi. Namun, masih terdapat kesenjangan yang harus ditangani. Pada 2024, sekitar 739 juta orang dewasa di dunia masih belum memiliki kemampuan literasi yang memadai, dan hampir dua pertiganya merupakan perempuan.
“Literasi bukan hanya tentang membaca dan menulis, tetapi juga tentang memahami informasi, berpikir kritis, berkomunikasi, memecahkan masalah, dan belajar sepanjang hayat,” ujar Santosh dalam keterangan yang diterima tvrinews, Selasa, 8 September 2026.
Ia menambahkan, perkembangan teknologi digital dan AI membuka peluang baru dalam pembelajaran dan partisipasi masyarakat. Namun, perkembangan tersebut juga menghadirkan tantangan baru, terutama kemampuan masyarakat dalam menilai informasi serta menggunakan teknologi secara aman dan bertanggung jawab.
Karena itu, UNESCO menilai penguatan literasi tetap menjadi agenda penting di era teknologi dan AI.
Tiga Dimensi Literasi
Dalam peringatan Hari Literasi Internasional 2026, UNESCO mengangkat tema “Literacy for People, Planet and Prosperity” atau literasi untuk manusia, planet, dan kesejahteraan.
Dimensi pertama adalah people. Literasi membantu masyarakat berpartisipasi dalam kehidupan sosial, memahami hak, berkomunikasi, serta memperoleh akses terhadap pembelajaran, khususnya kelompok yang rentan dan terpinggirkan.
Kedua, planet. Literasi membantu masyarakat memahami persoalan lingkungan, seperti perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati, sehingga pengetahuan tersebut dapat diterjemahkan menjadi tindakan.
Ketiga, prosperity. Literasi menjadi dasar bagi seseorang untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan, memperoleh kesempatan ekonomi, membangun kehidupan yang lebih baik, serta terus belajar.
“Literasi membantu orang untuk berpartisipasi, beradaptasi, dan berkontribusi, sehingga masyarakat dapat menjadi lebih inklusif, damai, dan sejahtera,”pungkasnya.










