TVRINews, Jakarta
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC), sebagai salah satu upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan operasi modifikasi cuaca dilakukan dengan menyemaikan garam atau natrium klorida (NaCl) ke awan yang berpotensi menghasilkan hujan.
Operasi tersebut dilakukan di sejumlah wilayah yang terdampak karhutla, antara lain Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Riau.
Di Kalimantan Barat, BNPB mengoperasikan tiga armada udara untuk melakukan modifikasi cuaca dengan menyemaikan 4.400 kilogram garam. Operasi tersebut berlangsung lebih dari 10 jam.
Sementara di Kalimantan Tengah, modifikasi cuaca dilakukan dengan menyemaikan 4.600 kilogram garam, dengan waktu operasi lebih dari delapan jam.
Di Kalimantan Selatan, BNPB menyemaikan 3.000 kilogram garam dengan waktu operasi lebih dari enam jam. Upaya tersebut disebut berhasil memaksimalkan hujan turun di beberapa wilayah.
"Ini berhasil memaksimalkan hujan turun di Kabupaten Tanah Bumbu, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan maupun Balangan," kata Berton dalam konferensi pers update penanganan karhutla, Selasa, 8 September 2026.
Sementara di Riau, operasi modifikasi cuaca dilakukan dengan menyemaikan satu ton NaCl. Hasilnya, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang terjadi di Kabupaten Kepulauan Meranti dan Pelalawan.
Adapun di Jambi dan Sumatera Selatan, BNPB tidak melakukan operasi modifikasi cuaca. Hal tersebut disebabkan tidak tersedianya bibit awan yang dapat disemai.
"Kami tidak melakukan operasi modifikasi cuaca di sana mengingat tidak ada bibit-bibit awan di atmosfer," ucapnya.
Selain modifikasi cuaca, BNPB juga mengerahkan Satgas darat dan udara serta melakukan water bombing untuk menangani karhutla di enam provinsi.










