TVRINews, Jakarta
Pemerintah mulai membangun Hunian Terjangkau Manggarai di kawasan Stasiun Manggarai, Jakarta, sebagai upaya menyediakan hunian layak, dan terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di tengah kota.
Groundbreaking proyek tersebut dihadiri Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait, Jumat, 21 Agustus 2026. Pembangunan merupakan hasil kolaborasi pemerintah bersama PT KAI dan Bank BTN dengan memanfaatkan lahan milik PT KAI seluas sekitar 2,1 hektare.
Hunian Terjangkau Manggarai direncanakan terdiri dari delapan tower dengan total 3.784 unit. Sebanyak tiga tower akan dibangun di Blok G dengan 1.276 unit, sementara lima tower lainnya berada di Blok F dengan 2.508 unit. Setiap tower memiliki 24 lantai dengan pilihan hunian tipe studio seluas 28 meter persegi, tipe 36, dan tipe 45.
Menteri PKP, Maruarar Sirait mengatakan proyek tersebut menjadi bentuk kolaborasi lintas sektor untuk menghadirkan hunian layak bagi masyarakat di lokasi strategis.

"Ini adalah kolaborasi bersama BUMN, dalam hal ini PT KAI dan BTN. Di tempat ini Pak Bobby dan Pak Nixon bersama-sama membangun dan membiayai perumahan. Yang mudah-mudahan akan selesai dalam 18 bulan," ujar Maruarar dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Sabtu, 22 Agustus 2026.
Menurut Maruarar, hunian tersebut menggunakan skema rumah susun milik (rusunami) dengan tenor pembiayaan hingga 40 tahun. Masyarakat juga memperoleh kemudahan berupa subsidi biaya proses dan dapat melakukan pemesanan ketika pembangunan telah mencapai 20 persen.
Pemerintah turut memberikan kemudahan perizinan berupa pembebasan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) serta Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) bagi masyarakat yang memenuhi ketentuan.
Kemudian Maruarar menegaskan, kemudahan tersebut harus tetap memastikan hunian subsidi tepat sasaran. Calon penghuni wajib memenuhi kriteria masyarakat berpenghasilan rendah sesuai Peraturan Menteri PKP Nomor 5 Tahun 2025.
"Kita ingin memastikan rumah ini diberikan kepada masyarakat yang menjadi sasaran program dan benar-benar ditempati oleh masyarakat yang membutuhkan," ucap Maruarar.
Salah satu keunggulan proyek tersebut adalah lokasinya yang terintegrasi dengan kawasan Transit Oriented Development (TOD). Penghuni nantinya memiliki akses langsung menuju KRL Commuter Line, KA Bandara, dan kereta api antarkota, serta konektivitas menuju MRT, LRT, dan TransJakarta.
Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin mengatakan proyek tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya perusahaan mengoptimalkan aset untuk memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat.
"Konsepnya membawa tiga prinsip, yaitu layak, terjangkau, dan berkelanjutan," kata Bobby.
Selain hunian, kawasan tersebut akan dilengkapi sekitar 150 unit ruang usaha atau retail untuk mendukung kebutuhan penghuni.
Ketua Satgas Perumahan, Hashim Djojohadikusumo menilai pembangunan hunian vertikal di pusat Jakarta merupakan langkah penting dalam memenuhi kebutuhan rumah layak bagi masyarakat.
Hashim menekankan, keberhasilan proyek tidak hanya diukur dari selesainya pembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuan menjaga kualitas dan pemeliharaan hunian dalam jangka panjang.
Hunian Terjangkau Manggarai diharapkan menjadi contoh pemanfaatan aset negara secara produktif sekaligus solusi atas kebutuhan hunian MBR di kawasan perkotaan. Dengan dukungan transportasi publik dan skema pembiayaan yang terjangkau, proyek ini ditargetkan menghadirkan hunian layak yang dekat dengan pusat aktivitas masyarakat.










