TVRINews, Jakarta
Pemerintah terus memperkuat hubungan ekonomi Indonesia dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) melalui perluasan kerja sama di berbagai sektor strategis. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengajak pelaku usaha Tiongkok untuk meningkatkan investasi di Indonesia, terutama pada sektor yang memiliki nilai tambah tinggi.
Ajakan tersebut disampaikan Airlangga saat menerima Kunjungan Kehormatan Delegasi Bisnis RRT serta Duta Besar RI untuk RRT di Jakarta, Kamis, 23 Juli 2026. Menurutnya, Indonesia tetap menjadi destinasi investasi yang menjanjikan bagi investor asing.
"Laporan dari perusahaan agensi Jepang, JETRO, menyampaikan bahwa perusahaan asing yang investasi di Indonesia potensi mengalami atau mendapat keuntungan besarnya 70 persen. Jadi lebih banyak untung daripada yang tidak untung," ujar Airlangga dalam keterangan tertulis, dikutip tvrinews.com dari laman Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jumat, 24 Juli 2026.
Ia menegaskan, pemerintah terbuka untuk memperluas kerja sama dengan mitra global, termasuk Tiongkok, tidak hanya di bidang perdagangan dan investasi, tetapi juga sektor jasa dan pendidikan.
"Kita terbuka untuk bekerja sama dengan partner global termasuk China, baik itu untuk trade investment maupun di sektor jasa maupun di sektor pendidikan. Dan saya mengundang bisnis pengusaha dari China untuk melanjutkan investasi di Indonesia terutama terhadap sektor yang mempunyai nilai tambah tinggi," ucapnya.
Hubungan ekonomi Indonesia dan Tiongkok selama ini ditopang oleh berbagai perjanjian perdagangan, seperti ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) yang berlaku sejak 2010 dan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang efektif pada 2022. Nilai perdagangan kedua negara pun terus meningkat, mencapai sekitar USD154 miliar berdasarkan data Indonesia dan sekitar USD160 miliar menurut data Tiongkok.
Selain menjadi mitra dagang utama, Tiongkok juga merupakan salah satu investor terbesar di Indonesia. Untuk menarik lebih banyak investasi, pemerintah menawarkan berbagai insentif fiskal, mulai dari fasilitas tax holiday hingga 100 persen, tax allowance, investment allowance, serta super tax deduction bagi investasi yang memenuhi kriteria.
Kerja sama kedua negara juga terus diperluas ke berbagai sektor strategis. Di bidang pendidikan, Indonesia telah menjalin kolaborasi dengan Tsinghua University melalui kegiatan riset dan seminar di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bali. Sementara di sektor otomotif, pemerintah mendorong penguatan investasi perusahaan Tiongkok seperti BYD dan Chery yang kini telah masuk jajaran lima besar pangsa pasar otomotif nasional.
Adapun di sektor ekonomi digital, pemerintah mendorong investasi pada industri semikonduktor, pembangunan infrastruktur serat optik, pengembangan aplikasi digital, hingga pusat data sebagai bagian dari transformasi ekonomi digital Indonesia.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto menegaskan, pemerintah berkomitmen terus memperluas kerja sama ekonomi dengan Tiongkok.
"Hubungan ekonomi Indonesia dan Tiongkok ini terus menunjukkan perkembangan yang semakin kuat dan komprehensif. Pemerintah berkomitmen untuk terus membuka peluang dan memperluas kerja sama yang saling menguntungkan, tidak hanya di bidang perdagangan dan investasi, tetapi juga pada sektor-sektor strategis seperti industri, pendidikan, ekonomi digital, dan teknologi," kata Haryo.









