TVRINews, Jakarta
Kementerian Sosial (Kemensos) memprioritaskan penguatan perlindungan sosial dan pemberdayaan lanjut usia (lansia) guna menghadapi perubahan demografi di Indonesia. Langkah strategis ini mencakup penyediaan layanan sosial terintegrasi, penguatan dukungan bagi lansia rentan, hingga pengembangan ekonomi perak (silver economy) yang inklusif.
Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono saat menghadiri peringatan Hari Lanjut Usia Internasional (HLUIN) 2026, peluncuran buku tentang lansia, dan Kick-off Pengembangan Ekonomi Perak di Kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Rabu 21 Oktober 2026.
“Peringatan Hari Lanjut Usia Internasional (HLUIN) menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen kita dalam menghadapi perubahan demografi di Indonesia,” ujar Agus Jabo.
Berdasarkan Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, proporsi penduduk lansia di Indonesia telah mencapai 11,97 persen dan diproyeksikan meningkat menjadi 20,31 persen pada 2045. Hal ini menandakan satu dari lima penduduk Indonesia diperkirakan akan berusia lanjut pada tahun tersebut.
Di sisi lain, data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 mencatat sebanyak 41,75 persen lansia berada dalam rumah tangga pada kelompok 40 persen terbawah berdasarkan pengeluaran per kapita, serta 44,02 persen lansia mengalami keluhan kesehatan.
Menurut Agus Jabo, kondisi tersebut menegaskan pentingnya kebijakan tentang lanjut usia yang tidak hanya melindungi lansia dalam kondisi rentan, tetapi juga membuka kesempatan bagi lansia yang masih berpotensi untuk berkontribusi dalam kehidupan sosial dan ekonomi.
Dalam menghadapi fenomena penuaan penduduk ini, Kementerian Sosial mendorong tiga agenda prioritas, yaitu memperkuat perlindungan sosial bagi lansia rentan, mengembangkan layanan lansia terintegrasi, serta mendorong pemberdayaan melalui ekonomi perak.
Melalui program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI), Kemensos terus mendorong pelayanan berbasis asesmen kebutuhan dengan pendekatan keluarga, komunitas, dan residensial. Langkah ini diarahkan untuk memastikan lansia miskin, lansia yang hidup sendiri, penyandang disabilitas, serta lansia yang membutuhkan perawatan memperoleh pelayanan yang sesuai.
Selain perlindungan sosial, layanan lansia perlu menghubungkan aspek sosial, kesehatan, perawatan jangka panjang, dan dukungan psikososial. Penguatan sistem layanan berbasis komunitas melalui pendampingan, rujukan, dan pemantauan berkelanjutan diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup lansia sekaligus mengurangi beban perawatan keluarga.
Dalam pengembangan ekonomi perak, Kemensos turut mendukung inisiatif Bappenas untuk menjadikan perubahan demografi sebagai peluang pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Dua sektor yang dinilai strategis adalah pengembangan senior living (hunian ramah lansia) serta industri alat bantu dan teknologi asistif yang mendukung mobilitas, keselamatan, dan kemandirian lansia.
“Kementerian Sosial siap berkontribusi sesuai tugas dan kewenangannya, khususnya untuk memastikan lansia rentan tidak tertinggal dalam pengembangan ekonomi perak. Keberhasilan ekonomi perak tidak semata-mata diukur dari pertumbuhan industri dan investasi, tetapi dari meningkatnya kesejahteraan, kemandirian, dan martabat lansia,” tegas Agus Jabo.
Agus Jabo berharap peluncuran buku kelanjutusiaan ini dapat memperkuat penyusunan kebijakan berbasis data dan bukti. Sementara itu, pengembangan ekonomi perak diharapkan menjadi awal kolaborasi nyata yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.










