TVRINews, Jakarta
Di tengah percepatan transformasi digital, keamanan siber dinilai menjadi fondasi utama dalam menjaga keberlangsungan layanan pendidikan yang aman dan terpercaya. Perlindungan data di sektor pendidikan juga dipandang tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga menyangkut kepercayaan jutaan peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan yang memanfaatkan layanan digital setiap hari.
Komitmen tersebut kembali diperkuat Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) dengan menyelenggarakan Program Bug Bounty 2026 serta EDUCSIRT Summit 2026. Mengusung tema “Build Cyber Resilience”, program ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan siber di sektor pendidikan melalui kolaborasi berbagai pihak.
Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, menegaskan bahwa penguatan keamanan siber merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kerja sama lintas unit serta peningkatan kapasitas seluruh pemangku kepentingan.
“Program Bug Bounty tidak hanya memberikan dampak nyata, tetapi juga mengharumkan nama Indonesia di tingkat internasional. Ini menjadi dorongan bagi kita untuk terus berinovasi dalam menghadirkan layanan pendidikan digital yang aman dan andal,”ujar Suharti dalam keterangan tertulis, Senin, 22 Juni 2026.
Sementara itu, Kepala Pusdatin Kemendikdasmen, Wibowo Mukti, menjelaskan bahwa Bug Bounty menjadi salah satu program pionir dalam tata kelola keamanan siber di sektor pemerintahan Indonesia. Melalui program ini, komunitas pendidikan diberi ruang legal untuk berperan sebagai peneliti keamanan atau ethical hacker dalam menemukan serta melaporkan potensi kerentanan sistem secara bertanggung jawab.
“Keamanan siber tidak hanya soal teknis, tetapi juga membutuhkan partisipasi luas untuk memastikan layanan pendidikan tetap tersedia dan berkelanjutan,”jelasnya.
Pelaksanaan Bug Bounty 2026 yang berlangsung pada 6 April hingga 25 Mei mencatatkan partisipasi tertinggi sejak program ini dimulai. Tahun ini, sebanyak 1.626 peserta terlibat, meningkat signifikan sekitar 619 persen dibandingkan tahun 2022 yang hanya diikuti 226 peserta.
Secara kumulatif sejak 2022, total 3.338 peserta dari 34 provinsi telah berkontribusi dalam menguji keamanan 68 aplikasi strategis milik Kemendikdasmen. Upaya ini disebut turut memperkuat perlindungan data bagi puluhan juta peserta didik dan jutaan tenaga pendidik di seluruh Indonesia.
Ke depan, program Bug Bounty akan dikembangkan menjadi platform berkelanjutan yang dapat diakses sepanjang tahun melalui portal Aman Bersama.
Capaian tersebut juga mendapat pengakuan internasional. Pada 2026, Program Bug Bounty Pusdatin Kemendikdasmen meraih gelar Champion WSIS Prizes 2026 dalam ajang World Summit on the Information Society (WSIS) yang diselenggarakan oleh International Telecommunication Union (ITU) di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Penghargaan ini sekaligus menegaskan kontribusi Indonesia dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas dan SDG 9 terkait inovasi serta infrastruktur yang tangguh.
Dalam rangkaian EDUCSIRT Summit 2026, para peserta yang terdiri dari siswa, mahasiswa, guru, dan dosen juga dibekali pemahaman mengenai tantangan keamanan siber di era kecerdasan artifisial (AI). Praktisi keamanan digital forensik, Joshua M. Sinambela, menekankan pentingnya pemanfaatan AI untuk memperkuat sistem keamanan sekaligus mendukung langkah pencegahan terhadap ancaman siber yang semakin kompleks.
Sementara itu, Tenaga Ahli Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Donny Budi Utoyo, mengingatkan bahwa meski teknologi berkembang pesat, manusia tetap memiliki keunggulan berupa kreativitas, kebijaksanaan, dan kemampuan berpikir kritis.
“Manusia tidak akan tergantikan oleh AI, tetapi mereka yang tidak memanfaatkan AI akan tertinggal oleh yang menggunakannya,”ungkap Donny.
Sebagai bentuk apresiasi, Kemendikdasmen memberikan penghargaan kepada 12 pemenang terbaik dari kategori siswa, mahasiswa, guru, dan dosen. Selain menerima sertifikat nasional dan total uang pembinaan senilai Rp200 juta, para pemenang juga akan bergabung dalam komunitas Manggala Edu sebagai wadah kolaborasi talenta keamanan siber dari berbagai latar belakang pendidikan.










