TVRINews, Malang
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan bahwa digitalisasi pendidikan tidak dimaksudkan untuk menggantikan metode pembelajaran yang sudah berjalan baik, melainkan untuk memperkaya pengalaman belajar peserta didik dengan tetap menjaga keseimbangan antara teknologi dan pendekatan tradisional di ruang kelas.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, menekankan bahwa transformasi digital di dunia pendidikan harus dilakukan secara bijak agar tidak berdampak negatif terhadap perkembangan kognitif, kreativitas, maupun kesehatan mental siswa.
Menurutnya, pemanfaatan teknologi seperti Interactive Flat Panel (IFP) yang telah dihadirkan di sejumlah sekolah harus tetap menempatkan guru sebagai pusat proses pembelajaran, bukan tergantikan oleh perangkat digital.
“Jangan sampai murid kehilangan daya kreativitasnya dan guru kehilangan inovasinya. Jika itu terjadi, maka teknologi justru mengambil alih peran pedagogis guru, dan itu menjadi masalah serius,”ujar Fajar dalam keterangan tertulis, Senin, 22 Juni 2026.
Fajar juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi membawa tantangan baru di dunia pendidikan, termasuk potensi penurunan fokus belajar, meningkatnya kecemasan, hingga fenomena brain rot akibat penggunaan gawai yang berlebihan.
Untuk itu, Kemendikdasmen mendorong pendekatan pembelajaran yang lebih seimbang melalui transformasi pedagogis berbasis Deep Learning, yang menempatkan pengalaman belajar siswa sebagai pusat proses pendidikan.
Di sisi lain, kebiasaan menulis manual tetap dipertahankan untuk melatih motorik halus dan memperkuat proses berpikir siswa. Implementasi kebijakan tersebut juga dirasakan para guru yang mengikuti pelatihan digitalisasi pembelajaran.
Salah satunya Ari, guru PPKn, Desain Komunikasi Visual, dan Informatika dari SMK Industri Mojokerto, yang mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru terkait fitur perangkat pembelajaran digital.
Ia menyebut sejumlah fitur pada perangkat sekolah sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal, termasuk kemampuan kamera yang dapat digunakan hingga kualitas 4K dengan pengaturan tertentu.
“Banyak fitur baru yang sebelumnya belum kita optimalkan. Ternyata ada pengaturan yang bisa dimaksimalkan, seperti kamera yang bisa sampai 4K,”ungkap Ari.
Ari menambahkan, pelatihan tersebut tidak hanya meningkatkan kemampuan teknis, tetapi juga mendorong semangat untuk berbagi pengetahuan kepada rekan guru lainnya di sekolah.
“Sebagai perwakilan sekolah, kami diharapkan bisa melakukan pengimbasan. Minimal satu orang bisa menularkan ilmu ini ke guru lain,”lanjutnya.
Kemendikdasmen menilai, keberhasilan transformasi pendidikan digital tidak hanya bergantung pada teknologi yang tersedia, tetapi juga pada kemampuan guru dalam memanfaatkannya secara tepat untuk mendukung pembelajaran yang tetap humanis dan berpusat pada peserta didik.










