TVRINews, Jakarta
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya mendorong perguruan tinggi menjadi motor lahirnya startup kreatif sebagai bagian dari implementasi Rencana Induk Ekonomi Kreatif (Rindekraf) 2026–2045. Langkah tersebut diwujudkan melalui penjajakan kolaborasi strategis antara Kementerian Ekraf dan Universitas Sahid.
Menurut Riefky, Rindekraf yang telah ditetapkan sebagai arah pembangunan ekonomi kreatif nasional selama 20 tahun ke depan membutuhkan dukungan dunia akademik dalam mencetak talenta unggul, memperkuat riset, serta mendorong lahirnya inovasi dan kewirausahaan berbasis ekonomi kreatif.
"Rindekraf 2026–2045 telah ditetapkan sebagai arah pembangunan ekonomi kreatif nasional dalam 20 tahun ke depan. Saya melihat kompetensi yang dimiliki Universitas Sahid selaras dengan berbagai subsektor ekonomi kreatif. Keselarasan tersebut menjadi modal yang baik untuk mengembangkan kolaborasi dalam penguatan talenta, riset, dan inovasi ekonomi kreatif," ujar Riefky dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Kamis, 16 Juli 2026.
Universitas Sahid mengajukan enam program kolaborasi strategis, antara lain pengembangan Creative Hub kampus dan beasiswa konten kreator, program Desa Kreatif berbasis riset dan pengabdian masyarakat, kolaborasi heksaheliks tingkat kampus, inkubasi dan akselerasi startup kreatif, rekognisi pembelajaran bagi pelaku ekonomi kreatif melalui konversi SKS, serta sosialisasi Nomor Induk Berusaha (NIB) bagi kreator konten.
Selain itu, kedua pihak juga membahas peluang kerja sama dalam penyelenggaraan pelatihan, seminar, workshop, kompetisi, pendampingan UMKM, hingga pengembangan riset guna memperkuat ekosistem ekonomi kreatif nasional.
Menanggapi usulan tersebut, Riefky mengatakan sebagian besar program telah sejalan dengan kebijakan Kementerian Ekraf, khususnya dalam pengembangan Desa Kreatif, Creative Hub, dan talenta ekonomi kreatif. Karena itu, pembahasan teknis akan segera dilakukan agar sejumlah program prioritas dapat segera direalisasikan.
Ia juga menekankan pentingnya mempercepat kolaborasi dengan asosiasi kreator konten, pengembangan inkubasi startup kreatif, serta sosialisasi NIB bagi kreator konten sebagai bagian dari penguatan ekosistem ekonomi kreatif.
Sementara itu, Rektor Universitas Sahid Giyatmi menyatakan kesiapan kampus untuk berkontribusi dalam pengembangan ekonomi kreatif melalui pendidikan, riset, dan pengabdian kepada masyarakat.
"Kami berharap ada banyak hal yang dapat dikolaborasikan sesuai kapasitas Universitas Sahid. Apapun yang memiliki irisan dengan ekonomi kreatif, kami siap berkontribusi melalui pendidikan, riset, dan pengabdian kepada masyarakat untuk mendukung pengembangan sumber daya manusia serta kemajuan bangsa dan negara," kata Giyatmi.
Melalui kolaborasi ini, Kementerian Ekraf dan Universitas Sahid berkomitmen menindaklanjuti pembahasan teknis guna memperkuat pengembangan talenta, riset, inovasi, dan kewirausahaan, termasuk melahirkan lebih banyak startup kreatif sebagai implementasi Rindekraf 2026–2045.










