TVRINews, Jakarta
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) terus mendorong penguatan ekosistem arsitektur berbasis material kayu lokal sebagai bagian dari pengembangan industri kreatif yang berkelanjutan. Upaya tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan pelaku industri, salah satunya PT Buana Triarta dan Timberlab.
Wakil Menteri Ekraf, Irene Umar mengatakan, material ramah lingkungan seperti engineered wood memiliki prospek besar seiring meningkatnya tren pembangunan berkelanjutan di tingkat global. Namun, pengembangannya memerlukan ekosistem yang kuat, kolaborasi lintas sektor, serta pembuktian melalui proyek nyata.
"Kita harus memahami seperti apa industri kreatif bergerak mengikuti tren global. Material ramah lingkungan seperti engineered wood memiliki peluang besar, tetapi harus dibangun melalui ekosistem yang kuat, kolaborasi lintas sektor, serta pembuktian melalui praktik atau proyek nyata yang berkelanjutan sehingga dapat dilihat dan dirasakan masyarakat," ujar Irene dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Kamis, 16 Juli 2026.

Menurut Irene, Kementerian Ekraf membuka peluang menghadirkan karya-karya berbasis kayu di berbagai ruang publik sebagai sarana edukasi sekaligus etalase inovasi Indonesia. Kehadiran instalasi maupun paviliun berbahan kayu dinilai mampu meningkatkan eksposur terhadap pasar ekspor dan memperluas pemanfaatan material kayu lokal.
Ia menambahkan, semakin banyak masyarakat yang mengenal dan merasakan manfaat bahan baku lokal, semakin besar pula peluang terciptanya nilai tambah ekonomi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap material impor.
"Semakin banyak orang dapat menyentuh, merasakan, dan memahami manfaat bahan baku lokal, maka semakin besar pula peluang industri ini berkembang memiliki nilai tambah ekonomi yang mengurangi ketergantungan pada material impor," ucapnya.
Sementara itu, Founder Timberlab sekaligus Direktur PT Buana Triarta, Tirto Hutomo Yuandi, menyambut baik dukungan Kementerian Ekraf. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar menjadi pemain utama arsitektur berbasis kayu di Asia Tenggara karena didukung sumber daya hutan yang melimpah.
Ia mengungkapkan, Wamen Ekraf juga mendorong pelaku industri agar tidak hanya berfokus mengembangkan pasar domestik, tetapi mulai membidik pasar luar negeri seperti Filipina dan Singapura sebagai tujuan ekspor produk berbasis kayu Indonesia.
Timberlab sendiri sebelumnya telah berkolaborasi dengan Kementerian Ekraf dan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) dalam Hackathon Arch ID 2026 melalui pembangunan Parametric Modular Timber Pavilion berbahan Glulam. Instalasi tersebut dirancang modular, dapat dibongkar pasang, dibangun dengan cepat, serta menghasilkan limbah yang sangat minim (zero waste).
Melalui kolaborasi ini, Kementerian Ekraf berharap ekosistem arsitektur kayu lokal semakin berkembang dan mampu memperkuat daya saing industri kreatif Indonesia di pasar global.










