TVRINews, Jakarta
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mengajak perguruan tinggi swasta (PTS) untuk memperkuat inovasi dan meningkatkan kemampuan beradaptasi menghadapi perubahan global yang terus berkembang. Hal itu disampaikan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto saat menghadiri Musyawarah Nasional (Munas) IV Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (BP PTSI).
Di mana, lanjut dia upaya tersebut dinilai penting agar PTS tetap mampu mencetak lulusan yang relevan dengan kebutuhan masa depan. Selain itu, ia mengatakan jika perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul, bukan sekadar menjalankan aktivitas pendidikan sebagai sebuah usaha.
Brian menuturkan, perubahan teknologi, sosial, hingga ekonomi menjadi tantangan yang harus dijawab melalui riset dan inovasi. Perguruan tinggi dituntut terus berkembang agar mampu menghasilkan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Pendidikan adalah untuk mencetak talenta unggul Indonesia yang akan menjadi tulang punggung kemajuan bangsa. Kalau kita bertahan dan melakukan inovasi, turbulensi yang dialami justru akan memperkuat kita,” ujar Brian kutip Kamis, 16 Juli 2026.
Ia menegaskan pemerintah akan terus mendukung peningkatan mutu PTS agar mampu bersaing sekaligus berkontribusi dalam pembangunan nasional melalui penguatan riset dan inovasi.
Senada dengan itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan menilai kemampuan beradaptasi menjadi faktor utama yang menentukan keberlangsungan sebuah perguruan tinggi di tengah perubahan zaman.
Berdasarkan data Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti), sekitar 63 persen perguruan tinggi di Indonesia atau sekitar 2.713 institusi merupakan perguruan tinggi swasta. Jumlah tersebut menampung lebih dari empat juta mahasiswa di seluruh Indonesia.
Fauzan juga menyoroti perubahan kebutuhan dunia kerja. Mengacu pada laporan Future of Jobs 2025, diperkirakan akan muncul 170 juta lapangan pekerjaan baru pada 2030, sementara sekitar 92 juta jenis pekerjaan yang ada saat ini berpotensi hilang. Di sisi lain, hampir 40 persen keterampilan utama tenaga kerja diperkirakan mengalami perubahan dalam lima tahun mendatang.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi sinyal bagi perguruan tinggi untuk terus memperbarui kurikulum, meningkatkan kualitas pembelajaran, serta memastikan lulusannya memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri.
“Peradaban tidak pernah runtuh karena perubahan, tetapi karena gagal membaca perubahan. Maka, perguruan tinggi yang akan bertahan adalah perguruan tinggi yang adaptif dan bergerak sesuai dengan zamannya,” kata Fauzan.
Selain itu, Kemdiktisaintek juga berkomitmen memperkuat tata kelola pendidikan tinggi melalui pola pembinaan yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing perguruan tinggi sehingga pengembangan kapasitas PTS dapat berjalan lebih optimal.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi BP PTSI Thomas Suyatno mengatakan perguruan tinggi swasta memerlukan kolaborasi yang kuat dengan seluruh pemangku kepentingan untuk menjawab tantangan yang semakin kompleks.
Ia berharap Munas IV BP PTSI dapat menghasilkan berbagai rekomendasi strategis yang tidak hanya memperkuat posisi PTS, tetapi juga mempererat sinergi dengan perguruan tinggi negeri dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia.
Melalui penguatan kolaborasi tersebut, Kemdiktisaintek berharap perguruan tinggi dapat semakin berperan sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, pencetak talenta unggul, sekaligus penghasil inovasi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan pembangunan nasional.










