TVRINews, Wonosobo
Kementerian Kebudayaan menggelar Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) 2026 di Lapangan Dusun Garung, Desa Butuh, Kecamatan Kalikajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Festival ini menjadi upaya menjaga identitas budaya sekaligus melestarikan pengetahuan tradisi musik Nusantara agar tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman.
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, dalam sambutannya melalui tayangan video menegaskan bahwa musik tradisi tidak hanya menjadi peninggalan masa lalu, tetapi juga memiliki nilai penting sebagai kekuatan budaya bangsa yang perlu diwariskan kepada generasi mendatang.
“Dengan tema gong dan resonansi gamelan, festival ini mengingatkan kita bahwa musik tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan kekuatan budaya, modal budaya yang harus kita jaga, kembangkan, wariskan pada generasi penerus,” ujar Menteri Fadli Zon dalam keterangan yang diterima tvrinews, Senin, 19 Oktober 2026.
Fadli juga menyoroti pentingnya kerja sama antara pemerintah, komunitas, seniman, dan masyarakat untuk menjaga keberlanjutan musik tradisi. Kolaborasi tersebut diperlukan agar tradisi tetap berkembang, mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman, serta memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.

(Foto: TVRINews/HO-Kemenbud)
“Pemajuan kebudayaan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, komunitas, seniman, dan masyarakat agar tradisi tetap hidup, adaptif terhadap perkembangan zaman, dan memberi manfaat bagi kehidupan bangsa,” lanjutnya.
Sementara itu, Direktur Film, Musik, dan Media pada Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Irini Dewi Wanti, menjelaskan bahwa musik tradisi memiliki nilai yang lebih luas daripada sekadar karya musikal. Di dalamnya tersimpan pengetahuan, nilai budaya, identitas, dan ingatan kolektif yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Menurut Irini, gong dan gamelan juga memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan masyarakat, mulai dari pelaksanaan ritual hingga pembentukan kebersamaan dan interaksi sosial.
Dari sisi daerah, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Fahmi Hidayat, menyebut penyelenggaraan FMTI 2026 sebagai bentuk kolaborasi untuk memberikan ruang ekspresi bagi para seniman sekaligus memperluas manfaat kebudayaan bagi masyarakat setempat.
“Melalui perhelatan ini, Pemerintah Kabupaten Wonosobo berkolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan dalam memberikan penghargaan, membuka ruang ekspresi, serta membawa karya lokal ke panggung yang lebih luas,” ungkap Fahmi Hidayat.
Mengusung tema “Merajut Bayang-Bayang Musik Nusantara” dengan gagasan “Gong Culture: Diaspora dan Resonansi Gamelan”, FMTI 2026 menjadi bagian dari upaya Kementerian Kebudayaan dalam memajukan kebudayaan Indonesia.
Kegiatan ini bekerja sama dengan komunitas Setyo Langan Budoyo melalui program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan atau Dana IndonesiaRaya Tahun 2026, serta mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Wonosobo.
Rangkaian kegiatan FMTI Wonosobo 2026 meliputi seminar budaya yang membahas inovasi dan masa depan gamelan serta pertunjukan musik tradisi. Kegiatan tersebut menjadi ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman bagi para pelaku budaya sekaligus memperkenalkan beragam ekspresi musik tradisi kepada masyarakat luas.
Melalui kegiatan ini, pelestarian musik tradisi diharapkan dapat berjalan beriringan dengan inovasi tanpa menghilangkan nilai dan pengetahuan budaya yang menjadi akar tradisi tersebut.
Festival ini menghadirkan sejumlah kelompok dan pelaku musik tradisi dari berbagai daerah, antara lain Sanggar Seni Mukti Laras dari Pemalang, Sarasvati Art dari Temanggung, Refamiredo dari Daerah Istimewa Yogyakarta, Padepokan Kandhang Seni dari Purbalingga, Sanggar Setyo Langen Budoyo dari Wonosobo, Asep Badruns, Saras Swara Indonesia dari Wonosobo, serta Saleho Karya Budaya dari Boyolali yang tampil sebagai penutup.
Selain pertunjukan, FMTI Wonosobo 2026 juga memberikan penghargaan kepada sejumlah pelaku budaya atas kontribusi mereka dalam menjaga keberlanjutan musik tradisi Nusantara.
Munir, maestro Bundengan, mendapat penghargaan sebagai Penjaga Musik Nusantara. Mulyani dari Ngesti Laras menerima penghargaan sebagai Penggerak Ekosistem Musik. Sementara itu, Agung Wahyu Utomo dan Setyo Langan Budoyo mendapat penghargaan sebagai Penggerak Tata Kelola FMTI.
Penghargaan tersebut menjadi bentuk pengakuan atas dedikasi para pelaku budaya dalam melestarikan musik tradisi sekaligus memperkuat ekosistem musik Nusantara.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Judi Wahjudin, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Wonosobo, serta sejumlah seniman dan budayawan.










