TVRINews, Sumatera Selatan
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Kristomei Sianturi mengevaluasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan. Evaluasi dilakukan untuk meningkatkan efektivitas operasi satuan tugas (satgas) agar penanganan kebakaran berjalan tepat sasaran dan lebih cepat.
Dalam kunjungan pertamanya sejak menjabat sebagai Kepala BNPB, Kristomei bertemu dengan Gubernur Sumatera Selatan, sejumlah bupati dan wali kota, serta jajaran terkait untuk membahas penanganan karhutla dan sinkronisasi dukungan pemerintah pusat dengan pemerintah daerah.
Kristomei mengatakan, pihaknya telah mendengarkan paparan mengenai pelaksanaan operasi penanganan karhutla, termasuk langkah-langkah yang dilakukan oleh Polda Sumatera Selatan. Menurutnya, upaya yang telah berjalan perlu terus dievaluasi agar pelaksanaannya semakin efektif.
“Ini tinggal bagaimana kita mengefektifkan sehingga kerja yang dilakukan oleh Satgas Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan ini benar-benar efektif dan mencapai sasaran yang tepat dan cepat,” kata Kristomei dalam keterangannya melalui kanal YouTube BNPB, Senin, 19 Oktober 2026.
Selain mengevaluasi operasi di lapangan, BNPB juga mengkaji pemanfaatan teknologi fly eye untuk mendukung penanganan karhutla. Evaluasi tersebut mencakup efektivitas teknologi serta kesiapan sumber daya manusia dalam penggunaannya.
Kristomei berharap teknologi tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal dan diterapkan di wilayah lain untuk membantu upaya penanggulangan karhutla.
Ia juga mengingatkan pentingnya peran masyarakat dan pihak swasta, khususnya perusahaan yang memiliki wilayah konsesi, untuk mencegah terjadinya pembakaran lahan. Menurutnya, upaya pemadaman yang dilakukan satgas akan menjadi kurang efektif apabila masih terjadi pembakaran. Karena itu, pencegahan harus berjalan beriringan dengan penanganan kebakaran di lapangan.
“Mari sama-sama, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, kemudian masyarakat, swasta, kita sama-sama bersatu padu kita atasi kebakarannya. Dampaknya semua terkena, bukan satu dua orang. Mari ini kita tanggung bersama,” ucapnya.
Kristomei menegaskan, penanganan karhutla membutuhkan kerja sama seluruh pihak dan tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri.
“Jadi, ini tadi tidak bisa sendiri-sendiri, tidak bisa Superman, tidak bisa super tim baru bisa,” tandasnya.
Lebih lanjut, BNPB akan menyinkronkan kebutuhan pemerintah daerah dengan dukungan yang dapat diberikan pemerintah pusat. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat upaya penanganan karhutla yang telah dilakukan di Sumatera Selatan.










