TVRINews, Jakarta
Kementerian Transmigrasi (Kementrans) ingin mengimplementasikan praktik baik pengembangan pariwisata berbasis budaya lokal di Wuchen, Kabupaten Tongxiang, China, ke sejumlah kawasan transmigrasi di Indonesia. Upaya ini dilakukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat dengan tetap mempertahankan warisan budaya setempat.
Staf Khusus Menteri Transmigrasi, Yoyo A. Budiyanto mengatakan, Wuchen menjadi contoh keberhasilan pengembangan kawasan bersejarah menjadi destinasi wisata yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Keberhasilan tersebut terlihat dari revitalisasi yang dimulai pada 1999–2000. Kawasan yang semula tergolong miskin itu berkembang menjadi destinasi wisata bagi wisatawan domestik maupun mancanegara, tanpa menghilangkan bangunan dan lingkungan perkampungan tradisional yang memiliki nilai sejarah.
Wuchen kini mampu menarik sekitar empat juta wisatawan. Pengembangan kawasan tersebut juga menjadikan warisan budaya sebagai daya tarik pariwisata sekaligus sumber penghidupan bagi masyarakat setempat.
Menurut Yoyo, pengalaman tersebut dapat menjadi referensi bagi Kementrans dalam mengoptimalkan potensi kawasan transmigrasi di Indonesia. Sejumlah wilayah yang dilirik antara lain Barelang di Kota Batam, Kepulauan Riau, serta kawasan transmigrasi di Papua.

"Hasil kunjungan kerja ke Wuchen akan kita sampaikan ke Bapak Menteri Transmigrasi. Apa yang ada di Wuchen kita ingin diimplementasikan di kawasan transmigrasi," ujar Yoyo dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Senin, 19 Oktober 2026.
Ia menjelaskan, pembangunan kawasan transmigrasi tidak hanya berfokus pada sektor pertanian. Potensi pariwisata yang mengangkat kekayaan budaya lokal juga dapat dikembangkan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Yoyo menegaskan, pelestarian budaya perlu berjalan seiring dengan upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, kekayaan budaya daerah diharapkan tidak hanya menjadi identitas masyarakat, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi produktif.
"Bukan hanya melestarikan tetapi juga menghidupkan. Paling penting adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat," katanya.
Pengembangan pariwisata berbasis budaya juga berpotensi membuka peluang usaha melalui pengolahan dan pemasaran produk lokal, termasuk kerajinan serta komoditas khas daerah. Dengan demikian, masyarakat dapat memperoleh nilai tambah ekonomi dari potensi yang dimiliki wilayahnya.
Untuk mendukung upaya tersebut, Kementrans melibatkan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) yang terdiri atas 1.476 peserta dari 10 perguruan tinggi negeri unggulan. Tim ini melakukan riset dan pendampingan di berbagai kawasan transmigrasi untuk mengidentifikasi potensi ekonomi serta merumuskan peluang pengembangan yang sesuai dengan karakteristik setiap wilayah.
"Mereka melakukan pendampingan di kawasan-kawasan transmigrasi. Dengan demikian kita harapkan ada potensi yang tergali," tuturnya.
Melalui pembelajaran dari Wuchen dan riset Tim Ekspedisi Patriot, Kementrans berharap potensi kawasan transmigrasi dapat dikembangkan secara optimal sehingga menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Pengembangan tersebut diharapkan mampu menjaga kelestarian budaya lokal sekaligus memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.










