TVRINews, Denpasar
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus mendorong perguruan tinggi bertransformasi menjadi pusat lahirnya wirausaha berbasis sains dan teknologi. Di mana, komitmen tersebut ditegaskan dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) III Aliansi Program Studi Kewirausahaan Indonesia (APSKI) 2026 di Bali.
Selain itu, upaya tersebut dilakukan untuk memperkuat ekosistem inovasi sekaligus meningkatkan jumlah pelaku usaha yang mampu menciptakan lapangan kerja. Salah satu fokus pembahasan dalam forum tersebut adalah pengembangan kurikulum kewirausahaan yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan tantangan dunia kerja yang terus berubah menuntut perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan yang siap bekerja, tetapi juga mampu menjadi pencipta usaha.
Menurutnya, kebutuhan terhadap technopreneur semakin mendesak karena Indonesia memerlukan lebih banyak inovasi yang dapat dihilirisasi menjadi produk maupun layanan yang bernilai ekonomi.
“Program studi kewirausahaan menjadi sangat relevan untuk menjawab tantangan masa depan melalui hilirisasi inovasi dan penciptaan lapangan kerja baru,” kata Badri dalam keterangan tertulis yang diterima tvrinews.com pada Jumat, 24 Juli 2026.
Ia menambahkan, transformasi menuju entrepreneurial university perlu didukung melalui kolaborasi yang lebih kuat antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia industri, lembaga pembiayaan, hingga asosiasi profesi agar ekosistem kewirausahaan berkembang secara berkelanjutan.
Sementara itu, Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM, M. Riza Damanik, menilai peningkatan rasio kewirausahaan menjadi salah satu faktor penting untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional.
Ia menyebut pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2026 tentang Pengembangan Kewirausahaan sebagai pijakan untuk memperkuat sinergi lintas sektor dalam menciptakan lebih banyak pelaku usaha baru.
“Indonesia tidak akan menjadi negara maju tanpa jumlah wirausaha yang mampu menggerakkan ekonomi dan membuka lapangan pekerjaan,” ujar Riza.
Sementara itu, Ketua APSKI Sonny Rustiadi mengatakan pendidikan kewirausahaan harus diarahkan agar mahasiswa mampu mengenali persoalan di daerahnya, kemudian mengubahnya menjadi peluang usaha yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Rakernas III APSKI diikuti lebih dari 150 program studi kewirausahaan bersama akademisi, pelaku industri, pembuat kebijakan, dan mitra internasional. Selain membahas implementasi kurikulum berbasis AI, forum tersebut juga menghasilkan sejumlah kerja sama dengan berbagai mitra nasional maupun internasional untuk memperkuat pengembangan pendidikan kewirausahaan di Indonesia.
Melalui penguatan kolaborasi dan pemanfaatan teknologi, Kemdiktisaintek berharap perguruan tinggi dapat menjadi motor lahirnya generasi wirausaha inovatif yang mampu meningkatkan daya saing bangsa sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi menuju Indonesia Emas 2045.









