TVRINews, Jakarta
Di tengah tren anak muda yang memilih merantau ke kota besar, dua putra-putri Papua justru mengambil langkah berbeda. Alexsander Leo Letsoin dan Dwi Sanjaya Rahayu Ohee memilih kembali ke tanah kelahirannya untuk mengabdi melalui Program Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 di kawasan transmigrasi Papua.
Keduanya menjadi bagian dari generasi muda yang ingin berkontribusi langsung dalam pembangunan daerah, khususnya melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pengembangan potensi kawasan transmigrasi.
Alexsander, pemuda asal Merauke, Papua Selatan, akan bertugas di Distrik Momiwaren, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat. Lulusan Universitas Musamus Merauke itu mengaku bergabung dalam Tim Ekspedisi Patriot karena ingin menjadi bagian dari perubahan di tanah kelahirannya.
"Saya tidak ingin hanya menjadi penonton perubahan. Saya ingin menjadi bagian dari tim yang bergerak, membantu masyarakat, dan menciptakan cerita keren untuk Indonesia," ujar Alexsander dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Jumat, 24 Juli 2026.
Berbekal pengalaman hidup sebagai putra daerah, Alexsander memahami berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat Papua, mulai dari keterbatasan akses hingga belum optimalnya pengembangan usaha kecil. Karena itu, ia menyiapkan program kerja yang berfokus pada penguatan UMKM agar mampu meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat.
Sementara itu, Dwi Sanjaya Rahayu Ohee, lulusan Politeknik Negeri Jember asal Jayapura, akan bertugas di Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, Papua. Ia menilai keikutsertaannya dalam Tim Ekspedisi Patriot merupakan kesempatan untuk mendedikasikan ilmu yang dimiliki bagi pembangunan kawasan transmigrasi.
"Saya ingin mendedikasikan diri untuk pemberdayaan ekonomi di kawasan transmigrasi dan membawa perubahan positif di setiap wilayah yang kami kunjungi," kata Dwi.
Menurutnya, keterbatasan fasilitas di lapangan tidak boleh menjadi penghalang untuk berinovasi. Ia menekankan pentingnya membangun komunikasi dengan masyarakat serta memahami budaya setempat agar program yang dijalankan dapat memberikan manfaat nyata.
Dwi juga menilai Tim Ekspedisi Patriot memiliki peran strategis sebagai penghubung antara masyarakat dan pemerintah. Melalui riset, pemetaan potensi wilayah, hingga penyusunan strategi pengembangan komoditas unggulan, hasil kerja peserta diharapkan menjadi dasar penyusunan kebijakan pembangunan kawasan transmigrasi.
Program Transmigrasi Patriot sendiri dinilai menghadirkan paradigma baru pembangunan transmigrasi. Program ini tidak hanya berorientasi pada perpindahan penduduk, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi dengan melibatkan generasi muda sebagai motor perubahan di daerah.
Kisah Alexsander dan Dwi menjadi gambaran semangat Tim Ekspedisi Patriot 2026 yang mendorong anak-anak muda kembali ke daerah untuk hidup bersama masyarakat, mendengarkan kebutuhan mereka, serta berkontribusi menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan transmigrasi.
Melalui langkah tersebut, pembangunan diharapkan tidak hanya bertumpu pada kota-kota besar, tetapi juga tumbuh dari kampung-kampung di berbagai pelosok Indonesia.









