TVRINews, Jakarta
Kementerian Pariwisata (Kemenpar) memperkuat pengembangan wisata kesehatan (health tourism) melalui strategi lintas sektor dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Sebanyak 18 rumah sakit ditetapkan sebagai proyek percontohan untuk mendukung pengembangan layanan wisata kesehatan di Indonesia.
Penguatan strategi tersebut dibahas dalam pertemuan yang melibatkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta, Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI), Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI), serta perwakilan rumah sakit.
Pelaksana Tugas Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenpar Rizki Handayani mengatakan pengembangan wisata kesehatan membutuhkan kolaborasi erat antara sektor kesehatan dan pariwisata agar Indonesia mampu menghadirkan layanan yang kompetitif bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
"Pertemuan ini sangat strategis untuk memperkuat pengembangan wisata kesehatan di Indonesia. Inisiatif ini telah dibangun sejak penandatanganan nota kesepahaman antara Kementerian Pariwisata dan Kementerian Kesehatan. Kini saatnya memperkuat kolaborasi antara industri pariwisata dan industri kesehatan agar mampu menciptakan ekosistem yang saling mendukung," ujar Rizki dalam keterangan tertulis yang diterima oleh tvrinews.com, Jumat, 24 Juli 2026.
Menurut Rizki, pengembangan wisata kesehatan menjadi bagian dari upaya menciptakan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan yang mampu meningkatkan daya saing Indonesia sekaligus memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional.
Ia menjelaskan kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan terus berkembang. Saat ini, wisata kesehatan tidak hanya berkaitan dengan layanan kuratif, tetapi juga mencakup aspek promotif, preventif, serta kebugaran (wellness).
"Seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap wisata kebugaran, khususnya di pasar domestik, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadikan wisata kesehatan sebagai salah satu produk unggulan pariwisata," kata Rizki.
Sebagai tahap awal, Kemenpar bersama Kemenkes, PERSI, dan ARSSI telah melakukan pemetaan rumah sakit yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata kesehatan. Dari hasil pemetaan tersebut, sebanyak 18 rumah sakit ditetapkan sebagai proyek percontohan, terdiri atas 15 rumah sakit di wilayah Jabodetabek dan tiga rumah sakit di Bali.
Beberapa rumah sakit yang masuk dalam proyek percontohan tersebut di antaranya RS Pondok Indah, Hermina Kemayoran, BIMC Nusa Dua, Mayapada Lebak Bulus, Siloam Semanggi, RS Pondok Indah Bintaro, dan Siloam Karawaci.
Sebanyak 18 rumah sakit tersebut nantinya akan masuk dalam katalog wisata kesehatan yang sedang disusun Kementerian Pariwisata. Katalog tersebut ditargetkan selesai pada Oktober 2026 dan akan menjadi salah satu sarana promosi layanan wisata kesehatan Indonesia.
Dalam proses pengembangannya, setiap rumah sakit akan melalui pemetaan menyeluruh, mulai dari penyusunan profil layanan unggulan hingga penghitungan estimasi paket wisata kesehatan. Kemenpar bersama Kemenkes juga akan melakukan survei lapangan untuk menentukan parameter center of excellence yang menjadi keunggulan masing-masing rumah sakit.
Rizki menegaskan wisata kesehatan tidak hanya berkaitan dengan fasilitas pelayanan medis, tetapi juga membutuhkan ekosistem pariwisata yang terintegrasi.
Kolaborasi akan melibatkan sektor perhotelan, biro perjalanan wisata, agen perjalanan, penyedia transportasi ramah pasien, termasuk layanan transportasi dengan fasilitas kursi roda, serta perusahaan asuransi dalam dan luar negeri.
"Tahapan ini merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem wisata kesehatan yang terintegrasi melalui kolaborasi antara fasilitas pelayanan kesehatan, pelaku usaha pariwisata, dan berbagai pemangku kepentingan terkait," ucap Rizki.









