TVRINews, Jakarta
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) masih mengintensifkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meskipun jumlah titik panas atau hotspot di Indonesia mengalami penurunan. Berdasarkan pemantauan terbaru, jumlah hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi kini tercatat sebanyak 55 titik.
Data Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi) Kemenhut hingga Jumat, 6 Novembe 2026, menunjukkan penurunan sebanyak 283 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 338 titik.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kemenhut, Ristianto Pribadi, mengatakan penurunan tersebut menunjukkan perkembangan positif dalam upaya pengendalian karhutla. Namun, pemerintah tetap melanjutkan pemantauan dan penanganan di lapangan untuk memastikan tidak ada kebakaran yang kembali meluas.
“Penurunan hotspot ini merupakan perkembangan positif yang harus kita jaga. Karena itu, operasi pemadaman, patroli, dan groundcheck tetap dilanjutkan,” ujar Ristianto dalam keterangannya yang dikutip, Minggu, 8 November 2026.
Berdasarkan pemantauan di enam provinsi prioritas, jumlah hotspot juga mengalami penurunan dari 86 menjadi 14 titik. Sebanyak sembilan titik terdeteksi di Jambi dan lima titik lainnya berada di Sumatera Selatan.
Sementara itu, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Riau tidak lagi mencatat hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi. Penurunan paling mencolok terjadi di Kalimantan Tengah yang sebelumnya memiliki 85 titik panas.
“Provinsi tersebut sebelumnya mencatat 85 hotspot. Tetapi pada pemantauan terbaru tidak lagi terdeteksi titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi,” kata Ristianto.
Meski hasil pemantauan satelit menunjukkan penurunan, kondisi di sejumlah wilayah masih memerlukan perhatian. Laporan Posko Pengendalian Kebakaran Hutan Kemenhut mencatat aktivitas pemadaman masih berlangsung di beberapa lokasi di Kalimantan Tengah.
Di Tanjung Taruna, Kabupaten Pulang Pisau, petugas masih menemukan kepulan asap sehingga penanganan harus dilanjutkan. Kondisi serupa terjadi di Jabiren, ketika api belum sepenuhnya padam pada kawasan gambut yang mengalami kebakaran permukaan maupun bawah.
Upaya pemadaman juga masih dilakukan di Kelurahan Kalampangan dan Jalan Trans Harawung, Kelurahan Habaring Hurung, Kota Palangka Raya. Kedua wilayah tersebut merupakan kawasan gambut yang masih membutuhkan penanganan lanjutan.
Di Sumatera Selatan, kebakaran di Desa Sungai Pinang, Kabupaten Banyuasin, telah berhasil dikendalikan dan dinyatakan padam. Namun, petugas masih melakukan pemadaman di Pulau Geronggang, Talang Rimba, serta Sungai Bungin, Kabupaten Ogan Komering Ilir.
Sejumlah lokasi tersebut mengalami kebakaran bawah pada lahan gambut. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri dalam proses pemadaman karena bara api dapat bertahan di bawah permukaan tanah meskipun tidak terlihat dari luar.
Ristianto menjelaskan, penanganan kebakaran di kawasan gambut harus dilakukan secara menyeluruh untuk mencegah munculnya kembali titik api. Karena itu, petugas tidak hanya melakukan pemadaman, tetapi juga pembasahan dan pemeriksaan berulang terhadap area yang terdampak.
“Pada lahan gambut, bara api bisa bertahan di bawah permukaan dan berpotensi memicu kebakaran kembali. Oleh karena itu, pembasahan, penyisiran bara, mopping up, pendinginan, dan patroli harus terus dilakukan sampai kondisi benar-benar aman,” katanya.
Kemenhut menegaskan, penurunan jumlah hotspot belum menjadi alasan untuk mengurangi kesiapsiagaan. Operasi pemadaman, patroli, dan pemeriksaan langsung di lapangan tetap diperlukan hingga seluruh sumber api dan bara dipastikan padam.










