TVRINews, Jakarta
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar, mendorong generasi muda untuk mengambil peran lebih besar dalam menentukan arah masa depan ekonomi kreatif Indonesia. Generasi muda diharapkan tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga mampu menciptakan inovasi dan peluang usaha yang memiliki nilai ekonomi.
Hal tersebut disampaikan Irene saat menjadi pembicara dalam Youth Economic Summit (YES) 2026 di Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail, Jakarta. Mengusung tema Drive the Direction: Mengambil Peran Menentukan Arah Masa Depan, forum ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk memahami dinamika ekonomi, perkembangan industri, hingga peluang kewirausahaan.
Irene menegaskan, generasi muda Indonesia perlu bertransformasi dari sekadar pengikut tren menjadi penggerak yang mampu menentukan arah perkembangan industri kreatif.
"Kalau sebelumnya kita selalu mendengarkan let’s listen to the trend, sekarang dengan adanya kata drive, berarti kita, Indonesia, dan generasi muda sudah siap menjadi driver of the future, menentukan apa yang ingin kita lakukan ke depan," ujar Irene dalam keterangan tertulis yang diterima tvrinews.com, dikutip dari siaran pers, Minggu, 8 November 2026.
Menurut Irene, salah satu kemampuan penting yang perlu dimiliki generasi muda dalam menghadapi perkembangan industri adalah mengolah data menjadi informasi yang bermakna. Data dapat dimanfaatkan untuk memahami kondisi pasar, mengidentifikasi potensi bisnis, hingga menyusun strategi usaha.
Kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) juga dinilai membuka peluang lebih luas bagi generasi muda untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi. Dengan dukungan data yang akurat serta perangkat komputasi, berbagai simulasi dapat dilakukan untuk memperkirakan peluang dan menentukan langkah bisnis ke depan.
Selain pemanfaatan teknologi, Irene turut menyoroti potensi industri gim sebagai salah satu sektor ekonomi kreatif yang menjanjikan. Berdasarkan laporan Peta Ekosistem Industri Gim Indonesia 2024 yang disusun Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Indonesia memiliki lebih dari 150 juta pemain gim.
Besarnya pasar tersebut menjadi peluang bagi pelaku ekonomi kreatif untuk mengembangkan produk sekaligus memperkenalkan identitas budaya Indonesia ke pasar global.
Kemudian, Irene mencontohkan kolaborasi industri Mobile Legends dengan jenama lokal Shiroshima yang mengintegrasikan unsur batik dalam produk merchandise. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa warisan budaya Indonesia dapat dikemas menjadi produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi dan daya tarik bagi komunitas internasional.
Lebih lanjut, Irene mendorong mahasiswa dan generasi muda agar tidak berhenti pada kompetisi maupun penyelesaian pendidikan. Hasil penelitian, skripsi, tesis, serta berbagai inovasi dari lingkungan pendidikan diharapkan dapat dikembangkan menjadi produk, kekayaan intelektual (intellectual property/IP), hingga usaha kreatif yang berkelanjutan.
Irene juga menekankan pentingnya keberanian untuk memulai sebagai langkah awal dalam menciptakan perubahan dan peluang baru.
"Siapa pun yang menang dalam kompetisi ini, seluruh peserta yang hadir ataupun yang mengikuti komunitas dan berani mengatakan ingin melakukan sesuatu, sudah menjadi pemenang. Karena keberanian untuk melangkah dan memulai merupakan langkah pertama yang sangat penting," tegasnya.
Melalui partisipasi dalam YES 2026, Kementerian Ekraf mendorong generasi muda untuk mengubah kreativitas dan gagasan menjadi inovasi, kekayaan intelektual, serta peluang usaha. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem ekonomi kreatif nasional sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global.










