TVRINews, Wakatobi
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong penguatan pengelolaan cagar biosfer di Indonesia berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Upaya tersebut dilakukan melalui pemanfaatan citra satelit, kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI), serta sistem pemantauan lingkungan untuk mendukung kebijakan konservasi yang efektif dan berkelanjutan.
Indonesia memiliki 21 cagar biosfer yang telah diakui UNESCO. Pengelolaan kawasan tersebut tidak hanya berorientasi pada perlindungan keanekaragaman hayati, tetapi juga perlu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal serta menjaga ketahanan ekosistem dalam menghadapi perubahan iklim.
Upaya penguatan pengelolaan cagar biosfer menjadi salah satu pembahasan utama dalam The 1st Archipelago and Marine Biosphere Reserve Seminar yang berlangsung pada 6–8 November 2026 di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara.
Seminar internasional tersebut mempertemukan pemerintah pusat dan daerah, peneliti, akademisi, organisasi internasional, komunitas lokal, serta berbagai pemangku kepentingan untuk membahas pengelolaan cagar biosfer kepulauan dan laut di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim dan tekanan terhadap ekosistem.
Direktur Kebijakan Lingkungan Hidup, Kemaritiman, Sumber Daya Alam, dan Ketenaganukliran BRIN, Ratih Damayanti, yang mewakili Kepala BRIN, mengatakan pengelolaan keanekaragaman hayati Indonesia perlu menyeimbangkan kepentingan konservasi, pembangunan ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat.
“Indonesia memiliki 21 cagar biosfer yang diakui UNESCO. Ini merupakan kekayaan sekaligus tanggung jawab besar bagi kita. Keberhasilan pengelolaannya tidak hanya ditentukan oleh kemampuan melindungi keanekaragaman hayati, tetapi juga bagaimana kawasan tersebut dapat memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal,” ujar Ratih dalam keterangan yang diterima tvrinews, Minggu, 8 November 2026.
Menurut Ratih, Program Man and the Biosphere (MAB) UNESCO menjadi kerangka kerja penting dalam membangun hubungan harmonis antara manusia dan alam melalui integrasi konservasi, ilmu pengetahuan, dan pembangunan berkelanjutan.
Untuk itu, BRIN bersama Komite Nasional MAB-UNESCO Indonesia berkomitmen memperkuat kontribusi penelitian dan inovasi dalam menghasilkan solusi praktis, rekomendasi kebijakan, serta model pengelolaan lingkungan yang dapat diterapkan.
Salah satu langkah yang dikembangkan adalah pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan akurasi pemantauan lingkungan, khususnya pada ekosistem kepulauan dan pesisir yang rentan terhadap dampak perubahan iklim.
Ratih menjelaskan, perkembangan teknologi penginderaan jauh, sensor lingkungan, dan kecerdasan artifisial memungkinkan pemantauan kawasan dalam cakupan lebih luas serta pengolahan data lingkungan secara terintegrasi.
Dalam hal ini, BRIN telah mengembangkan platform GEOMIMO yang mengintegrasikan citra satelit, data drone, sensor lapangan, dan berbagai sumber data lainnya dengan dukungan kecerdasan artifisial.
Platform tersebut telah dimanfaatkan untuk mendukung penanganan bencana, deteksi kebakaran hutan, dan pemetaan mangrove. Teknologi serupa juga berpotensi dikembangkan untuk memantau kondisi ekosistem pesisir dan laut.
“Melalui teknologi seperti GEOMIMO, kita dapat mengintegrasikan data satelit, drone, dan pengamatan lapangan untuk memahami perubahan lingkungan secara lebih menyeluruh. Teknologi ini membuka peluang bagi pengelola cagar biosfer untuk memperoleh informasi ilmiah yang lebih baik dalam mengambil keputusan konservasi dan menghadapi perubahan iklim,” jelas Ratih.
Selain pemanfaatan teknologi, pengelolaan cagar biosfer juga perlu memastikan masyarakat di dalam dan sekitar kawasan memperoleh manfaat nyata dari keberadaan kawasan konservasi tersebut.
Anggota Komisi IV DPR RI, Rokhmin Dahuri, menilai pengelolaan cagar biosfer harus memperhatikan persoalan kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, upaya perlindungan lingkungan perlu berjalan beriringan dengan pembangunan ekonomi lokal yang berkelanjutan.
“Jangan sampai kawasan cagar biosfer berhasil mempertahankan keanekaragaman hayati, tetapi masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitarnya justru tetap hidup dalam kemiskinan. Konservasi harus berjalan bersama pemberdayaan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ungkap Rokhmin.
Ia menjelaskan, Indonesia menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan pemanfaatan sumber daya alam untuk pembangunan ekonomi dengan upaya menjaga keberlanjutan ekosistem.
Sumber daya alam dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, menyediakan lapangan kerja, serta mendukung cita-cita Indonesia menjadi negara maju pada 2045. Namun, pemanfaatannya perlu memperhatikan berbagai ancaman terhadap ekosistem pesisir dan laut.
Ancaman tersebut antara lain pencemaran, penangkapan ikan berlebihan, praktik perikanan yang merusak, penangkapan ikan ilegal, serta perubahan iklim global. Selain itu, kenaikan permukaan laut, pengasaman laut, dan fenomena cuaca ekstrem juga menjadi tantangan bagi keberlanjutan ekosistem.
Karena itu, pengembangan cagar biosfer perlu menjadi bagian dari strategi pembangunan berkelanjutan yang mampu menjaga keseimbangan kepentingan ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Sementara itu, Bupati Wakatobi, Haliana, mengatakan kehidupan masyarakat di wilayahnya memiliki keterkaitan erat dengan laut. Kondisi geografis sebagai wilayah kepulauan telah membentuk masyarakat yang tanggap dan tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan alam.
Menurutnya, laut bagi masyarakat Wakatobi bukan hanya sumber penghidupan ekonomi, melainkan juga bagian dari identitas, kebudayaan, dan kehidupan yang diwariskan antargenerasi.
“Bagi masyarakat Wakatobi, laut bukan sekadar tempat mencari nafkah. Laut adalah identitas, budaya, dan bagian dari kehidupan kami. Karena itu, menjaga ekosistem laut berarti juga menjaga keberlanjutan kehidupan dan masa depan masyarakat Wakatobi,” kata Haliana.
Ia menambahkan, Wakatobi merupakan salah satu dari 10 destinasi pariwisata prioritas Indonesia. Oleh karena itu, pengembangan pariwisata di daerah tersebut perlu berjalan seimbang dengan upaya pelestarian lingkungan.
Potensi wisata bahari Wakatobi dinilai dapat menjadi peluang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan ekonomi yang tetap memperhatikan kelestarian sumber daya alam.
Melalui penguatan riset, pemanfaatan teknologi, dan keterlibatan masyarakat, pengelolaan cagar biosfer diharapkan tidak hanya mampu menjaga keanekaragaman hayati, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan ekosistem dan keberlanjutan pembangunan daerah.










