TVRINews, Jakarta
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengerahkan sebanyak 321 tenaga kesehatan cadangan, untuk memperkuat penanganan dampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia.
Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes, Agus Jamaluddin, mengatakan tenaga kesehatan tersebut dimobilisasi untuk mendukung pelayanan di rumah sakit maupun Puskesmas di daerah terdampak Karhutla.
"Mobilisasi tenaga bidang kesehatan untuk masing-masing provinsi sudah mengirimkan tenaga cadangan atau kesehatan, yaitu ada dari mulai dokter sampai orang Kesling, totalnya 321 orang," ujar Agus kepada wartawan termasuk tvrinews.com dalam Media Briefing Kemenkes, Rabu, 26 Agustus 2026.
Agus menjelaskan, Karhutla saat ini berdampak pada sejumlah wilayah di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Enam provinsi tersebut telah menetapkan status siaga darurat.
Menurutnya, tenaga kesehatan cadangan dikerahkan untuk membantu tenaga kesehatan setempat memberikan pelayanan kepada masyarakat yang terdampak asap Karhutla.
Selain memberikan layanan di fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan juga diturunkan langsung ke lokasi kebakaran. Langkah tersebut dilakukan untuk memantau kondisi kesehatan para petugas pemadam yang bekerja di lapangan.
"Bukan hanya Puskesmas itu pasif, tapi ada yang aktif, artinya ada tenaga-tenaga kesehatan yang bergerak langsung ke lokasi kebakaran," ucap Agus.
Kemudian, ia menyebut tenaga kesehatan juga memberikan dukungan kepada petugas pemadam kebakaran, termasuk untuk mengantisipasi kelelahan dan kekurangan oksigen selama menjalankan tugas.
Selain pengerahan personel, Kemenkes juga mendistribusikan berbagai logistik kesehatan, seperti masker, oksigen konsentrator, oksigen tabung, sarung tangan, APD, serta kebutuhan lainnya.
Bantuan juga mencakup pemberian makanan tambahan (PMT) bagi kelompok rentan, seperti ibu hamil, balita, dan lansia. Distribusi obat-obatan juga terus dilakukan sesuai kebutuhan di masing-masing daerah.
Agus mengatakan, Kemenkes turut mengaktifkan Health Emergency Operation Center (HEOC) di tingkat provinsi dan kabupaten terdampak sebagai bagian dari koordinasi penanganan krisis kesehatan.
Kemenkes juga menyiapkan rumah atau kamar oksigen, yakni ruangan kedap asap yang dilengkapi oksigen konsentrator dan air purifier. Fasilitas ini ditujukan untuk membantu masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan akibat paparan asap Karhutla.
Berdasarkan data Kemenkes, sekitar 3,4 juta penduduk terdampak Karhutla di wilayah tersebut. Sementara itu, peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) juga terjadi di sejumlah daerah.
Kemenkes pun mengimbau masyarakat meningkatkan perlindungan diri, salah satunya dengan menggunakan masker secara benar, terutama saat beraktivitas di ruang terbuka ketika kualitas udara terdampak asap Karhutla.










