TVRINews – Jakarta
BNPB Kerahkan Helikopter Sisir Wilayah Terdampak Gempa Flores untuk Pastikan Distribusi Bantuan Tepat Sasaran.
Pemerintah mempercepat penanganan darurat pascal gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengerahkan penerbangan pemantauan udara guna memetakan jalur logistik serta memverifikasi dampak kerusakan di sepanjang pesisir utara Flores.
Operasi udara yang berlangsung pada Jumat (21/8) tersebut dipimpin langsung oleh Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Abdul Muhari. Menggunakan helikopter yang terbang pada ketinggian rendah antara 25 hingga 30 meter di atas permukaan tanah, tim memantau secara visual lanskap dari Labuan Bajo menyusuri Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, hingga Nagekeo.
Langkah ini diambil menyusul laporan mengenai permukiman di wilayah perbukitan yang sulit dijangkau kendaraan darat. Berdasarkan pantauan visual dari udara, akses menuju sejumlah titik pengungsian terhalang oleh kontur geografis yang ekstrem, sehingga truk logistik berkapasitas besar tidak memungkinkan untuk melintas.
"Kami melakukan pemetaan komprehensif dari udara untuk melihat secara utuh kawasan terdampak, mulai dari pesisir hingga daratan tinggi," ujar Abdul Muhari dalam keterangan resminya Rabu 26 Agustus 2026. Ia menambahkan bahwa helikopter nantinya akan dioptimalkan untuk melakukan penerjunan logistik (dropping) langsung ke titik-titik terisolir yang tidak dapat diakses menggunakan kendaraan roda empat.
Selain memetakan jalur logistik, penerbangan ini juga bertujuan untuk memvalidasi laporan masyarakat dan pemerintah daerah terkait indikasi landaan tsunami di kawasan pesisir. Dari hasil observasi visual, BNPB menyimpulkan bahwa dampak tsunami secara umum berada dalam skala minor.
Meskipun demikian, tim mendapati beberapa wilayah dengan topografi teluk dan cekukan yang memicu amplifikasi gelombang. Berdasarkan analisis, potensi terjangan gelombang tersebut sebagian besar berdampak pada area tambak warga alih-alih merusak kawasan permukiman secara luas, sehingga dampak sosial yang ditimbulkan relatif terkendali.
Sebagai catatan, gempa bumi utama tersebut terjadi pada Sabtu 15 Agustus 2026 lalu, yang sempat memicu peringatan dini tsunami dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelum akhirnya dinyatakan berakhir. Ke depannya, hasil pemindaian udara ini akan disandingkan dengan investigasi darat guna memastikan validitas data kerusakan struktur bangunan secara menyeluruh.










