TVRINews, Jakarta
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan bahwa arah pembangunan kawasan transmigrasi kini berfokus pada penciptaan peluang ekonomi dan lapangan kerja produktif sebelum perpindahan penduduk dilakukan.
Pernyataan tersebut disampaikannya dalam Transmigration Executive Dialogue (TED) bertajuk “Dari Transmigrasi Menuju Transformasi Regional yang Produktif” di Jakarta.
Menteri Transmigrasi menjelaskan bahwa paradigma baru ini bertujuan untuk memastikan masyarakat yang berpindah maupun warga setempat mendapatkan kepastian kesejahteraan dan kehidupan yang lebih baik.
“Masa depan transmigrasi bukan memindahkan orang terlebih dahulu lalu berharap peluang ekonomi menyusul. Kita harus menciptakan peluang ekonomi, menyiapkan pekerjaan dan kehidupan yang layak, baru mobilitas penduduk mengikuti secara sukarela, aman, dan dengan kepastian masa depan,” kata Menteri Iftitah dalam keterangannya dikutip Rabu, 26 Agustus 2026.
Ia menambahkan bahwa pembangunan kawasan transmigrasi dirancang sebagai ekosistem ekonomi terpadu yang mengolah potensi sumber daya alam dari hulu ke hilir.

(Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara. [Foto: Kementrans RI])
“Kita tidak boleh berhenti pada menanam dan mengekspor komoditas mentah. Kita harus membangun seluruh ekosistem ekonominya di Indonesia, mulai dari riset dan pembibitan hingga budidaya, pengolahan, logistik, produk hilir, dan pemasaran global,” ujarnya.
Pendekatan baru yang diusung Kementerian Transmigrasi tersebut dinilai sangat relevan di tengah perubahan ekonomi dan rantai pasok global. Professor of Economics dari Adam Smith Business School, University of Glasgow, Prof. Soner Başkaya menyebut langkah ini sebagai strategi yang tepat untuk memanfaatkan keunggulan geopolitik Indonesia.
“Posisi Indonesia saat ini sangat menguntungkan di mata dunia. Indonesia memiliki posisi politik yang relatif netral, jalur perdagangan yang strategis, serta kekayaan alam penting seperti nikel yang sangat dibutuhkan industri masa depan, mulai dari baterai hingga kendaraan listrik,” kata Prof. Başkaya.
Ia juga menyepakati bahwa tolok ukur utama keberhasilan transmigrasi bukan lagi sekadar angka perpindahan penduduk atau besarnya investasi, melainkan dampak ekonomi nyata yang dirasakan oleh masyarakat lokal.
Untuk merealisasikan penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan kawasan, Kementerian Transmigrasi menjalankan lima program unggulan, yakni Trans Tuntas, Trans Lokal, Trans Patriot, Trans Karya Nusantara, dan Trans Gotong Royong.
“Transmigrasi hari ini tidak bisa berjalan sendirian. Kepastian lahan, infrastruktur, konektivitas, energi, investasi, pasar, tata kelola, dan sumber daya manusia harus dibangun bersama dalam satu ekosistem,” tegas Menteri Iftitah.
Secara khusus, Menteri Iftitah memberikan arahan kepada 1.476 Patriot yang ditempatkan di 53 kawasan transmigrasi prioritas di seluruh Indonesia untuk mendampingi warga dan menghubungkan potensi daerah dengan dunia usaha.
“Para Patriot adalah mata dan telinga kita di lapangan. Hasil kerja mereka akan menjadi salah satu fondasi penting bagi kebijakan dan pembangunan kawasan transmigrasi ke depan,” ujarnya.
Melalui transformasi ini, Kementerian Transmigrasi berkomitmen menjadikan masyarakat setempat sebagai pelaku utama dan tuan rumah di daerahnya sendiri, sehingga pembangunan ekonomi daerah dapat tumbuh secara mandiri dan berkelanjutan.










