TVRINews, Nusa Tenggara Timur
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan, jika jumlah korban meninggal dunia akibat gemba bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) bertambah menjadi 105 orang.
Hal tersebut, diungkapkan oleh Kepala BNPB, Suharyanto saat memberikan laporan langsung ke Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto saat melakukan peninjauan penanganan dampak gempa bumi di Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Rabu, 26 Agustus 2026 hari ini.
Suharyanto menerangkan ada sebanyak 48 orang merupakan korban yang meninggal secara langsung akibat gempa. Sementara 57 korban lainnya, kata dia merupakan hasil pendataan lanjutan dari operasi pencarian dan pertolongan (SAR), termasuk korban yang meninggal saat menjalani perawatan di fasilitas kesehatan serta kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan korban yang mengalami trauma.
“Korban yang terkena gempa langsung sebanyak 48 orang. Kemudian ada tambahan 57 orang berdasarkan hasil operasi SAR dan pendataan di fasilitas kesehatan, sehingga total korban meninggal dunia saat ini menjadi 105 orang,” ujar Suharyanto
Tak hanya itu, BNPB juga telah mengaktifkan kembali sistem komando penanganan darurat sejak hari pertama bencana pada 15 Agustus.
“Pemerintah pusat bersama Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) membentuk Posko Pengendalian Nasional untuk mendampingi pemerintah daerah,” kata dia
Dalam skema tersebut, lanjutnya Satuan Tugas (Satgas) tingkat kabupaten/kota dipimpin oleh masing-masing bupati, sedangkan Satgas provinsi dipimpin oleh Gubernur NTT.
“Adapun BNPB membentuk Satgas pendampingan dengan dua posko utama di Labuan Bajo dan Maumere guna mempercepat distribusi logistik dan koordinasi penanganan,” ucapnya
“Posko Labuan Bajo melayani empat kabupaten, yakni Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, dan Nagekeo. Sementara Posko Maumere menangani tiga kabupaten, yaitu Sikka, Ende, dan Ngada,” terusnya.
Menurut Suharyanto, pembagian wilayah tersebut dilakukan agar penyaluran bantuan dapat lebih efektif, terutama bagi wilayah Ngada dan Nagekeo yang berada di posisi tengah sehingga distribusi logistik dapat disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.










