TVRINews, Jakarta
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Papua Barat sudah terkendali. Namun, sejumlah titik asap masih ditemukan di wilayah terdampak.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP mengatakan, masih terdapat 20 titik panas (hotspot) dan lima titik api (firespot). Jarak pandang di wilayah tersebut berkisar 7-10 kilometer.
"Per tanggal 30 Agustus 2026 secara umum sudah dapat terkendali, namun masih ditemukan titik-titik asap. Sehingga hotspot yang ditemukan itu atau titik panas yang ditemukan itu sebanyak 20 titik, titik api sebanyak 5 titik, jarak pandang sekitar 7 sampai 10 kilometer," kata Berton dalam konferensi persnya, Senin, 31 Agustus 2026.
Penanganan karhutla dilakukan melalui operasi udara dengan metode water bombing. BNPB juga mendapat dukungan dua helikopter dari pihak swasta untuk memperkuat operasi pemadaman.
Berton mengatakan satu helikopter BNPB telah melakukan penyiraman sebanyak 662 ribu liter air ke wilayah terdampak.
"Upaya yang dilakukan adalah waterbombing, ada bantuan 2 heli dari PB Berau, dan ini kita sambut baik pihak swasta juga ambil andil dalam mendukung penanganan Karhutla. Dan 1 helikopter dari BNPB sudah melakukan penyebaran air sebesar 662 ribu liter air," ujarnya.
Sementara itu, operasi darat untuk sementara dihentikan dan penanganan difokuskan melalui operasi udara. Kondisi vegetasi yang tinggi dan rapat menjadi salah satu kendala dalam proses pemadaman.
Selain itu, operasi udara juga menghadapi kendala keterbatasan pengawasan penerbangan. Hanya satu helikopter yang dapat beroperasi secara bersamaan karena tower Bandara Babo tidak mencakup seluruh area operasi.
Ketersediaan bahan bakar avtur juga menjadi salah satu kendala. BNPB akan melakukan koordinasi dan berbagai pendekatan untuk memastikan pasokan avtur tersedia sehingga operasi dapat berjalan optimal.
"Juga keterbatasan stok avtur, jadi ini juga kami akan melakukan berbagai pendekatan sehingga stok avtur menjadi tersedia nantinya," ucap Berton.
Lebih lanjut, Berton mengatakan operasi akan kembali dilakukan pada Selasa, 1 September 2026. Tim terlebih dahulu melakukan pemetaan dan pemantauan ulang untuk memastikan keberadaan titik api maupun titik panas.
Selain pemantauan, satuan tugas (satgas) juga akan kembali diaktifkan untuk memperkuat penanganan karhutla.
BNPB mengingatkan potensi karhutla masih sangat tinggi hingga 5 September 2026, terutama di wilayah Teluk Bintuni dan Fakfak. Pesawat untuk mendukung operasi penanganan juga akan tetap disiagakan.
"Kemudian potensi kemudahan terbakar sangat tinggi dan ini akan terjadi hari ini maupun sampai tanggal 5 September nanti. Terutama di Teluk Bentuni dan Fak-Fak. Pesawat kita juga akan tetap stand by," pungkas Berton.









