TVRINews – Lamongan
Kementan Percepat Pompanisasi Air untuk Lindungi 3.233 Hektare Padi Terdampak Kekeringan di Lamongan.
Kementerian Pertanian mempercepat langkah mitigasi krisis iklim menyusul tekanan cuaca ekstrem akibat fenomena El Nino yang melanda sebagian wilayah pertanian di Pulau Jawa.
Pemerintah pusat melaporkan mayoritas lahan sawah yang mengalami defisit pasokan air di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, kini telah kembali mendapatkan suplai irigasi secara berkala melalui optimalisasi infrastruktur buatan.
Berdasarkan data resmi instansi pertanian 31 Agustus 2026, dari total 3.450 hektare lahan produktif yang mengalami kekeringan di tujuh kecamatan, seluas 3.233 hektare telah berhasil dialiri air. Sementara itu, sisa lahan seluas 217 hektare masih menjadi fokus pengerjaan intensif di lapangan oleh tim teknis gabungan.
Langkah pemulihan ini mengandalkan dua instrumen utama, yakni optimalisasi mesin pompa air berkapasitas tinggi serta normalisasi jaringan saluran irigasi sekunder dan tersier. Sejumlah wilayah dilaporkan telah tuntas sepenuhnya memulihkan pasokan air bagi tanaman padi berbagai usia tanam.
Di Kecamatan Karang Binangun dan Kecamatan Glagah, seluruh lahan yang mengalami kekeringan kini dipastikan aman setelah suplai air normal kembali. Capaian serupa juga tercatat di Kecamatan Kalitengah, yang menjadi wilayah dengan cakupan penanganan terluas mencapai 1.855 hektare, serta Kecamatan Sukodadi yang merampungkan pemulihan 50 hektare lahan terdampak.
Kendati demikian, tantangan geografis masih ditemui di beberapa titik krusial. Kecamatan Turi dan Kecamatan Sugio mencatatkan sisa lahan terbesar yang belum sepenuhnya teraliri, masing-masing seluas 169 hektare dan 31 hektare.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa intervensi cepat di tingkat akar rumput merupakan bagian dari kerangka mitigasi strategis jangka panjang yang dirancang sejak awal masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Kebijakan ini difokuskan untuk melindungi ketahanan pangan nasional dari ancaman anomali iklim global.
"Upaya terpadu ini kami siapkan jauh hari guna mengantisipasi eskalasi dampak kekeringan, dengan menempatkan pompanisasi dan rehabilitasi saluran air sebagai garda terdepan penyelamatan musim tanam petani," ujar Amran dalam keterangannya, Senin 31 Agustus 2026.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Pertanian, Arief Cahyono, menegaskan bahwa percepatan di lapangan merupakan hasil kerja sama kolektif lintas sektoral yang digerakkan secara masif dalam beberapa pekan terakhir.
"Capaian pengairan 3.233 hektare dari total 3.450 hektare lahan terdampak mencerminkan respons cepat aparat di lapangan. Sisa 217 hektare, khususnya di Kecamatan Turi dan Sugio, terus dikawal secara ketat agar segera tuntas dalam waktu dekat," tutur Arief.
Keberhasilan penanganan darurat air ini tidak lepas dari sinergi institusional yang melibatkan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, serta jajaran dinas terkait di tingkat provinsi dan kabupaten.
Kolaborasi erat bersama jajaran Penanggung Jawab Swasembada Pangan Kementerian Pertanian di daerah turut menjadi katalisator percepatan distribusi air irigasi.
Ke depan, Kementerian Pertanian memastikan komunikasi intensif dengan Penjabat Gubernur Jawa Timur serta pemerintah daerah Kabupaten Lamongan akan terus ditingkatkan. Langkah ini diambil untuk memastikan sisa lahan yang belum terjangkau segera mendapatkan suplai air secara menyeluruh guna menjamin produktivitas panen raya tetap terjaga.









