TVRINews – Jombang, Jawa Timur
Fokus merangkul akar rumput dan menjauhi politik praktis.
Kepemimpinan baru Pengurus Besar Nahdlatul Umama (PBNU) periode 2026–2031 resmi diemban oleh KH Miftahul Ahyar sebagai Rois Am dan KH Abdul Hakim Mahfudz, atau yang akrab disapa Gus Kikin, sebagai Ketua Umum Tanfidziyah Senin 31 Agustus 2026.
Lahir dari proses musyawarah yang demokratis melalui mekanisme Ahlul Halli Wal Aqdhi (AHWA) serta dukungan suara signifikan, transisi ini membawa ekspektasi besar bagi masa depan organisasi Islam terbesar di tanah air tersebut.
Sebagai nakhoda baru, Gus Kikin dihadapkan pada mandat besar untuk merajut kembali simpul organisasi yang sempat dinamis. Sejumlah pengamat kebijakan publik menilai bahwa legitimasi historis dari Pesantren Tebuireng serta rekam jejak kepemimpinan yang moderat harus segera diterjemahkan ke dalam agenda kerja yang terukur.
Guna mewujudkan tata kelola yang solid dan berkelanjutan, dalam sambutannya Gus Kikin terdapat enam pilar fundamental yang dirumuskan untuk mengarahkan langkah PBNU ke depan:
• Rekonsiliasi Internal Menyeluruh Kepengurusan baru didorong untuk menghindari pola pendekatan kemenangan mutlak atau winner takes all. Seluruh elemen yang sempat memiliki perbedaan pandangan selama muktamar perlu dirangkul secara proporsional guna merawat harmoni internal.
• Penyelarasan Syuriyah dan Tanfidziyah Struktur organisasi akan jauh lebih kokoh apabila kewibawaan para ulama di jajaran Syuriyah diposisikan sebagai jangkar moral. Di sisi lain, badan eksekutif Tanfidziyah dapat fokus menggerakkan roda organisasi secara profesional guna mencegah potensi tumpang tindih kewenangan.
• Menjaga Jarak dari Politik Praktis Peran historis NU dalam kancah kebangsaan tetap dijaga, namun harus dipisahkan secara tegas dari kepentingan elektoral kelompok maupun individu tertentu. Komitmen ini penting untuk menjaga integritas moral organisasi di mata publik.
• Penguatan Sinergi Pusat dan Daerah Konsolidasi struktural tidak boleh hanya berpusat di ibu kota. Kepemimpinan baru perlu memperkuat komunikasi langsung dengan pengurus wilayah, cabang, pondok pesantren, hingga generasi muda melalui kunjungan serta pendekatan dialogis yang partisipatif.
• Akselerasi Kemandirian Ekonomi Jamaah Potensi besar jutaan warga Nahdliyin diarahkan menjadi kekuatan nyata melalui pengembangan koperasi, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pesantren produktif, serta perluasan akses pendidikan vokasi yang inklusif.
• Modernisasi Tata Kelola Organisasi Semangat kembali ke khittah diwujudkan secara konkret melalui transparansi manajerial, akuntabilitas keuangan yang ketat, pangkalan data digital yang terintegrasi, serta sistem pengkaderan berbasis meritokrasi.
Melalui kombinasi antara nilai-nilai tradisi pesantren dan standar profesionalisme modern, kepemimpinan Gus Kikin diharapkan mampu membawa PBNU menjawab tantangan zaman sekaligus memperkuat kontribusinya bagi kemajuan bangsa.









