TVRINews, Jakarta
Menteri Sosial Saifullah Yusuf yang akrab disapa Gus Ipul memastikan kesiapan seluruh jajaran dalam menyambut pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah bagi siswa baru Sekolah Rakyat di berbagai daerah. Proses orientasi serta adaptasi awal ini dijadwalkan resmi bergulir secara serentak mulai Selasa, 14 Juli 2026. Melalui skema pelaksanaan yang dibagi ke dalam empat gelombang, Kementerian Sosial berfokus pada kesiapan sarana prasarana serta penyiapan mental para siswa prasejahtera sebelum mereka memasuki program pembelajaran utama dan keasramaan.
Dalam konferensi pers yang digelar di Kantor Kementerian Sosial, Jakarta, pada Senin, 13 Juli 2026, Gus Ipul menegaskan bahwa sistem penerimaan Sekolah Rakyat memiliki karakteristik yang berbeda dari sekolah formal pada umumnya. Institusi ini tidak membuka pendaftaran mandiri, melainkan menggunakan sistem penjangkauan aktif ke masyarakat.
"Teman-teman sekalian, sebagaimana diketahui bahwa Sekolah rakyat tidak ada pendaftaran, yang ada adalah penjangkauan," ujar Mensos Gus Ipul.
Proses penjangkauan tersebut digerakkan langsung oleh para pendamping sosial di daerah yang bersinergi dengan pemerintah daerah dan Badan Pusat Statistik setempat. Data yang terjaring kemudian diproses melalui sidang pleno di tingkat daerah, sebelum akhirnya ditetapkan secara resmi melalui keputusan Bupati, Wali Kota, atau Gubernur untuk disahkan sebagai Siswa Sekolah Rakyat.
Berdasarkan data terkini per 13 Juli 2026, tercatat sudah ada 28.478 siswa baru yang terjaring dan angka ini dipastikan akan terus bertambah. Jika diakumulasikan dengan siswa yang sudah menempuh pendidikan sejak tahun lalu, total keseluruhan murid Sekolah Rakyat saat ini mencapai 43.346 siswa yang terbagi ke dalam 1.550 rombongan belajar atau rombel.
Gus Ipul menjelaskan bahwa MPLS tahun ini akan dilaksanakan secara bertahap dalam empat gelombang sebagai bagian dari program persiapan pra-pembelajaran. Program pengenalan ini dikhususkan bagi Sekolah Rakyat yang menerima siswa baru dan menjadi fondasi awal sebelum para siswa memasuki program pembelajaran utama serta program keasramaan yang berlangsung selama kurang lebih tiga bulan.
Setelah fase MPLS usai, Kementerian Sosial akan melanjutkan program ke tahap matrikulasi khusus. Proses ini menjadi krusial mengingat Sekolah Rakyat sama sekali tidak menerapkan tes akademik saat menjaring peserta didik.
Sistem seleksi Sekolah Rakyat murni berbasis pada Data Terpadu Kesejahteraan Sosial dengan menyasar keluarga yang berada di desil satu atau dua. Kategori desil tersebut merepresentasikan kelompok masyarakat yang berada dalam kondisi sosial ekonomi paling bawah atau prasejahtera, sehingga memerlukan perhatian penuh dari negara.
"Nah untuk itulah diperlukan proses adaptasi bersama-sama dengan yang lain. Belajar di pengalaman tahun lalu alhamdulillah proses adaptasi atau matrikulasi selama 3 bulan itu benar-benar membuat siswa-siswa sekolah rakyat bisa belajar bersama-sama, mengikuti proses pembelajaran dengan baik dan sebagian diantaranya telah berprestasi," pungkas Gus Ipul.










