TVRINews, Jakarta
Menteri Kebudayaan Fadli Zon terima Yayasan Mestika Wanodja Indonesia, bahas revitalisasi Gedung De Majestic Bandung sebagai pusat kesenian bersejarah.
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menerima kunjungan resmi pengurus Yayasan Mestika Wanodja Indonesia di Gedung Kementerian Kebudayaan, Jakarta. Pertemuan strategis ini membahas upaya pelestarian, pemeliharaan, serta optimalisasi pemanfaatan Gedung De Majestic yang terletak di kawasan bersejarah Jalan Braga, Kota Bandung, Jawa Barat.
Bangunan cagar budaya yang telah berdiri lebih dari satu abad ini memerlukan perhatian komprehensif, baik dari aspek pemeliharaan struktur fisik bangunan maupun peningkatan fasilitas penunjang agar dapat kembali berfungsi optimal sebagai ruang pertunjukan seni dan kebudayaan publik.
Pembina Yayasan Mestika Wanodja Indonesia, Osye Anggandari, menjelaskan bahwa pengelolaan gedung bersejarah tersebut saat ini dijalankan berdasarkan perjanjian kerja sama dengan PT Jasa dan Kepariwisataan Jawa Barat sejak Februari 2023 hingga 2028 mendatang.
Pihak yayasan berkomitmen penuh untuk terus merawat serta memperkenalkan kembali De Majestic sebagai destinasi wisata budaya unggulan dan rumah bagi para seniman Kota Bandung.
Sementara itu, Ketua Yayasan Mestika Wanodja Indonesia, Wina Sumaryani, menyoroti urgensi perbaikan fasilitas pendukung di dalam gedung, khususnya perangkat seni dan sarana pemutaran film yang usianya sudah tergolong tua demi memenuhi tingginya antusiasme pelaku seni lokal.
“Banyak pelaku seni yang ingin memanfaatkan gedung ini secara maksimal, tetapi sebagian peralatan yang tersedia sudah terlalu tua,” ungkap Wina dalam keterangan pers Kemenbud yang diterima tvrinews, Selasa, 8 September 2026.
Sinergi Pemda dan Pelibatan Komunitas Budaya
Menanggapi hal tersebut, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa langkah pelestarian Gedung De Majestic perlu ditempuh melalui kolaborasi erat dengan pemerintah daerah, mengingat status kepemilikan aset tersebut berada di bawah Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

(Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon menerima kunjungan pengurus Yayasan Mestika Wanodja Indonesia di Gedung Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Senin, 7 September 2026. [Foto: TVRINews/HO-Kemenbud])
Kementerian Kebudayaan menyatakan kesiapannya dalam memberikan dukungan penuh, khususnya apabila bangunan tersebut memenuhi kriteria untuk didorong peningkatannya status sebagai cagar budaya tingkat nasional, sekaligus memperkuat pemanfaatannya sebagai pusat kegiatan seni yang produktif.
“Terkait aktivasinya, bisa mengajak berbagai komunitas budaya yang ada di Jawa Barat agar De Majestic dapat dimanfaatkan kembali sebagai pusat kesenian,” ungkap Menbud Fadli.
Menbud menekankan bahwa pelestarian bangunan cagar budaya harus senantiasa berjalan seirama dengan pemanfaatannya (dynamic preservation). Dengan pendekatan ini, nilai historis bangunan tetap terlindungi secara maksimal, sementara ruang tersebut terus "hidup" dan memberikan nilai tambah sosial serta ekonomi bagi masyarakat melalui sinergi antara pemerintah, pengelola, dan komunitas seni.
Jejak Historis Gedung De Majestic di Jantung Kota Bandung
Gedung De Majestic memiliki rekam jejak historis yang sangat krusial bagi perjalanan peradaban seni dan perfilman nasional:
* Arsitektur Kolonial: Dibangun pada awal tahun 1920-an dan dirancang oleh arsitek ternama berkebangsaan Belanda, Charles Prosper Wolff Schoemaker.
* Pusat Hiburan Legendaris: Dahulu dikenal dengan nama Concordia Bioscoop, gedung ini menjadi salah satu pusat hiburan termasyhur di Kota Bandung pada masanya.
* Tonggak Sejarah Perfilman Indonesia: Gedung ini tercatat sebagai lokasi pemutaran perdana film Loetoeng Kasaroeng pada 31 Desember 1926, yang diakui secara luas sebagai film panjang fiksi pertama buatan Indonesia.
Kini, De Majestic telah resmi berstatus sebagai bangunan cagar budaya Kota Bandung. Melalui sinergi lintas pihak yang solid, Kementerian Kebudayaan berharap gedung bersejarah ini tidak hanya lestari secara fisik, tetapi juga kembali menjadi ruang temu yang inspiratif bagi pertunjukan, ekspresi budaya, serta kemajuan ekosistem seni di Tanah Air.










