TVRINews, Jakarta
Pemerintah mendorong perluasan pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit (hospital-based) sebagai langkah mempercepat pemenuhan kebutuhan dokter spesialis di Indonesia.
Deputi III Kepala Staf Kepresidenan, Yan Hiksas, mengatakan pengembangan pendidikan spesialis berbasis rumah sakit merupakan tindak lanjut perintah Kepala Staf Kepresidenan untuk menjembatani kebutuhan rumah sakit dengan perguruan tinggi dalam mencetak lebih banyak dokter spesialis.
Menurut Yan, Indonesia saat ini masih menghadapi kekurangan sekitar 60 ribu dokter spesialis. Jika pemenuhan kebutuhan dilakukan dengan pola pendidikan yang berjalan normal, dibutuhkan waktu sekitar 20 tahun.
“Karena itu terobosan dari Pak Menteri ini luar biasa dan kami pasti akan kerja keras untuk mendukung ini,” ujar Yan dalam keterangan yang diterima tvrinews di Jakarta, Kamis, 3 September 2026.
Yan menyebut peluncuran 25 program studi pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit menjadi langkah awal untuk memperluas kapasitas pendidikan. Pemerintah juga menargetkan penambahan program studi dilakukan secara bertahap, bahkan setiap tiga bulan.
Ia berharap pengembangan tersebut dapat mempercepat pemerataan dokter spesialis, khususnya untuk masyarakat di daerah 3T dan wilayah yang jauh dari pusat layanan kesehatan.
“Dan kita berharap setiap 3 bulan tambah prodi,” jelasnya.
Menurut Yan, penambahan dokter spesialis merupakan bagian dari upaya pemerintah memenuhi hak masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan sekaligus mendukung cita-cita pembangunan sumber daya manusia Indonesia.










