TVRINews, Jakarta
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkap alasan pemerintah mendorong pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit atau hospital-based. Kebijakan ini berangkat dari masih terbatasnya jumlah dokter spesialis dan belum meratanya layanan spesialis di berbagai daerah.
Budi mengatakan persoalan kekurangan dokter spesialis mulai terlihat jelas saat pandemi COVID-19. Ketika berkeliling ke sekitar 100 kota, ia menemukan banyak daerah yang tidak memiliki dokter spesialis, termasuk dokter spesialis paru yang sangat dibutuhkan untuk menangani pasien COVID-19.
“Sebagian besar itu tidak ada spesialis parunya. Di situ yang saya rasakan pertama kali bahwa oh ini kurang, ini penyakitnya menyerang paru-paru tapi dokter parunya kurang,”kata Budi dalam keterangan yang diterima tvrinews di Auditorium Dr. J. Leimena, Gedung Adhyatma Kemenkes, Jakarta Selatan, Kamis, 3 September 2026.
Setelah pandemi, Kementerian Kesehatan melakukan pemetaan terhadap rumah sakit di Indonesia. Budi menemukan masih banyak rumah sakit daerah yang belum memiliki tujuh spesialis dasar secara lengkap, yakni penyakit dalam, anak, obstetri dan ginekologi, bedah, anestesi, radiologi, serta patologi klinik.
Dari 514 rumah sakit daerah, sebanyak 173 RSUD disebut masih belum memiliki tujuh spesialis dasar tersebut secara lengkap.
Budi juga mencontohkan kondisi di Kabupaten Nias Utara. Di wilayah tersebut, ia menemukan rumah sakit hanya memiliki satu dokter spesialis, yakni spesialis anak. Kondisi itu membuat pasien dengan kasus tertentu harus dirujuk ke wilayah lain dengan waktu tempuh yang cukup lama.
Kondisi serupa ditemukan ketika pemerintah menyiapkan 66 rumah sakit di daerah tertinggal untuk memberikan layanan jantung dan stroke. Setelah peralatan kesehatan dikirim, Kemenkes mendapati seluruh daerah tersebut belum memiliki dokter spesialis jantung dan saraf.
Karena itu, Budi menilai penambahan sentra pendidikan dokter spesialis harus dilakukan dengan memanfaatkan rumah sakit sebagai bagian dari ekosistem pendidikan.
“Pertama kita harus memperbanyak sentra pendidikannya,”tandasnya.
Melalui skema hospital-based, pemerintah berharap kapasitas pendidikan dokter spesialis meningkat sekaligus memperluas pemerataan tenaga medis hingga ke daerah.










