TVRINews, Bali
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mulai mengembangkan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan, Jembrana, Bali, menjadi kawasan industri perikanan modern dan terintegrasi berskala global.
Pengembangan tersebut ditandai dengan peletakan batu pertama pada Selasa, 29 September 2026. Proyek yang menelan investasi sedikitnya Rp1,2 triliun itu ditargetkan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar, terutama melalui penciptaan lapangan kerja.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan, pengembangan PPN Pengambengan diproyeksikan menciptakan efek berganda terhadap perekonomian daerah dengan potensi penyerapan tenaga kerja hingga 25 ribu orang.
"Berapa besar sebetulnya serapan tenaga kerja jika ini dikembangkan dengan baik? Diprediksi kira-kira sekitar 25 ribu orang. Saya minta nanti sebaiknya memang pelaku yang bekerja di sini ya orang Bali. Harus orang Bali, supaya mereka dapat pekerjaan dengan baik, dilatih dan dididik dengan baik," ujar Menteri Trenggono dalam keterangan tertulis, dikutip, Kamis, 1 Oktober 2026.
Menurut Trenggono, pengembangan pelabuhan tidak hanya berorientasi pada peningkatan aktivitas perikanan, tetapi juga menghadirkan fasilitas yang bersih, higienis, dan modern. Hal tersebut dinilai penting untuk meningkatkan daya saing produk perikanan Indonesia di pasar global.
PPN Pengambengan nantinya juga diproyeksikan menjadi lokasi bersandarnya kapal-kapal besar yang sebelumnya beraktivitas di Pelabuhan Benoa, termasuk kapal penangkap ikan tuna.
"Saya kepingin membangun, sekali kita membangun, betul-betul harus terintegrasi. Pembangunan ini, selain juga menjadi bagian untuk pengembangan ekonomi, harapannya ini adalah tempat yang dikombinasikan antara industri perikanan yang modern, berikut juga dikombinasi dengan pariwisata," tambahnya.
Rencana tersebut mendapat respons positif dari nelayan tradisional di Pengambengan. Mereka berharap pengembangan pelabuhan dapat membuka peluang kerja baru sekaligus menjadi alternatif pendapatan ketika memasuki musim paceklik ikan.
Anan, nelayan kapal selerek yang telah melaut selama 11 tahun di Pengambengan, mengatakan musim paceklik kerap membuat nelayan kehilangan penghasilan dan harus mencari pekerjaan serabutan.
"Harapan saya mudah-mudahan ini menjadi satu solusi yang bagus ya. Karena nantinya pasti lapangan pekerjaan akan dibuka lebih banyak lagi,"ungkap Anan.
Ia berharap keberadaan fasilitas seperti cold storage dan tempat perbaikan kapal dapat menjadi sumber mata pencaharian alternatif bagi nelayan ketika tidak dapat melaut.
"Jadi tidak perlu harus menganggur sekian lama ketika musim paceklik ikan, ada lapangan pekerjaan khususnya untuk penduduk lokal. Harapan saya, nelayan khususnya nelayan lokal itu bisa semakin sejahtera,”tandasnya.
Hal serupa disampaikan I Ketut Sumajaya, nelayan kapal selerek berpasangan yang telah 15 tahun melaut di Pengambengan. Ia menyebut pembangunan pelabuhan modern tersebut merupakan hal yang telah dinantikan nelayan sejak beberapa tahun terakhir.
“Ini adalah momen yang kami tunggu-tunggu sebenarnya dari tahun 2020," ungkap Sumajaya.
Menurut Sumajaya, pendangkalan kolam labuh selama ini menjadi salah satu kendala bagi nelayan dalam melakukan bongkar muat hasil tangkapan. Kondisi tersebut turut memengaruhi kelancaran distribusi ikan dari pelabuhan menuju pabrik maupun pengepul.
"Sebabnya kami sebagai nelayan di sini kendala-kendala ini banyak sekali di area pelabuhan ini, pelabuhan ini tidak memadai untuk kami melaksanakan kegiatan bongkar ikan. Jadi nelayan ini berharap nantinya dengan adanya pelabuhan yang modern, kami selaku nelayan gampang untuk mengakses dalam artian bongkar muat ikan, untuk mendistribusikan ikan itu ke wilayah-wilayah pabrik baik itu pengepul,"tuturnya.










