TVRINews, Palangka Raya
Desakan agar Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mundur dari jabatannya mencuat di tengah persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap yang melanda Kalimantan Tengah. Menanggapi desakan tersebut, Raja Juli menegaskan pemerintah tetap berupaya menangani karhutla dan tidak meninggalkan masyarakat yang terdampak.
Pernyataan itu disampaikan Raja Juli saat meninjau lokasi kebakaran di kawasan Taman Nasional Sebangau, Jalan Tjilik Riwut Kilometer 23, Palangka Raya, Selasa, 13 Oktober 2026.
Raja Juli mengakui masyarakat telah menghadapi paparan kabut asap selama sekitar tiga bulan terakhir. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi dorongan bagi pemerintah pusat dan daerah untuk meningkatkan keseriusan dalam penanganan karhutla.
“Kami dari pemerintah pusat maupun daerah mempunyai empati yang sangat dalam terhadap masyarakat yang tiga bulan terakhir terpapar asap. Ini memotivasi kami untuk bekerja lebih sungguh-sungguh. Sama sekali kita tidak lepas tangan atau cuci tangan,” ujar Raja Juli dalam keterangan resmi Kemenhut, Selasa, 13 Oktober 2026.
Ia juga menegaskan bahwa kritik masyarakat terhadap penanganan karhutla merupakan bagian dari evaluasi yang perlu diperhatikan pemerintah. Raja Juli menyatakan siap menerima berbagai masukan, termasuk kritik keras, sebagai dorongan untuk meningkatkan kinerja.
“Kritik, saran, bahkan kritik pedas sekalipun kami terima sebagai vitamin untuk bekerja lebih keras lagi. Kami butuh dukungan seluruh masyarakat agar kita bisa bersama-sama menghadapi bencana ini,” katanya.
Desakan mundur terhadap Menteri Kehutanan sebelumnya disampaikan sejumlah pemuda dalam aksi protes di depan hotel tempat Raja Juli menginap di Palangka Raya, Senin, 12 Oktober 2026 malam.
Dalam aksi tersebut, para pemuda menilai penanganan karhutla di Kalimantan Tengah belum menunjukkan hasil yang diharapkan. Mereka meminta pemerintah pusat mengambil langkah lebih tegas untuk mengatasi kebakaran dan dampak kabut asap terhadap masyarakat.
Salah seorang perwakilan peserta aksi, Aris, bahkan meminta Raja Juli mengundurkan diri apabila tidak mampu memberikan solusi konkret atas persoalan tersebut.
“Kalau tidak bisa menjadi Menteri, mending mengundurkan diri saja dari Menteri Kehutanan,” seru Aris.
Aksi protes tersebut menjadi sorotan di tengah tuntutan masyarakat terhadap penanganan karhutla yang lebih efektif. Di sisi lain, pemerintah dituntut memastikan upaya pemadaman dan pengendalian kebakaran berjalan optimal agar dampak kabut asap terhadap kesehatan dan aktivitas warga dapat segera ditekan.
Raja Juli menegaskan komitmennya untuk terus bekerja menangani karhutla serta membuka ruang bagi kritik dan dukungan masyarakat dalam menghadapi bencana tersebut.










