TVRINews, Cikarang
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan bahwa kemandirian Indonesia dalam menghadapi rivalitas geopolitik dan geoekonomi global harus dibangun dari kekuatan domestik.
Penegasan tersebut disampaikan Menko AHY saat menghadiri Konvensi Nasional XVII Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) di President University, Jababeka, Cikarang. Dalam kesempatan itu, ia menempatkan pembangunan infrastruktur, ketahanan pangan, energi, air, serta pemerataan kewilayahan sebagai fondasi strategis kedaulatan nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Menko AHY menjelaskan, di tengah meningkatnya ketidakpastian global, ketahanan nasional tidak lagi dapat dimaknai sebatas kemampuan pertahanan militer. Ketergantungan terhadap energi, pangan, teknologi, dan sistem logistik global juga dapat menjadi sumber kerentanan strategis bagi bangsa.
"Kedaulatan tidak cukup hanya dijaga melalui kekuatan pertahanan dan diplomasi. Kita juga harus memastikan ketersediaan pangan, energi, air, serta infrastruktur yang mampu menopang kehidupan rakyat dan produktivitas ekonomi nasional," ungkap Menko AHY dalam keterangannya dikutip Selasa, 13 Oktober 2026.
Menurutnya, pembangunan infrastruktur harus diarahkan untuk meningkatkan efisiensi logistik, memperkuat konektivitas antarpulau, menghubungkan sentra produksi dengan pasar, serta membuka pusat-pusat pertumbuhan baru. Langkah ini juga memiliki dimensi strategis dalam memperkuat daya tawar ekonomi Indonesia di tengah restrukturisasi rantai pasok global.
"Infrastruktur bukan sekadar membangun jalan, pelabuhan, bandara, atau bendungan. Infrastruktur adalah instrumen untuk memperkuat ketahanan ekonomi, mengurangi kesenjangan wilayah, dan memastikan setiap daerah memiliki kesempatan untuk tumbuh dan maju," ungkapnya.
Lebih lanjut, Menko AHY menyoroti pentingnya diplomasi infrastruktur guna memperkuat kemitraan antarnegara, menarik investasi produktif, mendorong transfer teknologi, dan meningkatkan kapasitas SDM nasional. Ia pun mengajak AIHII untuk memperluas kajian hubungan internasional ke isu infrastruktur strategis, konektivitas regional, serta ketahanan pembangunan.
"Diplomasi yang kuat harus didukung kapasitas nasional yang kuat. Karena itu, pembangunan infrastruktur dan penguatan daya saing bukan hanya agenda ekonomi, melainkan bagian dari strategi besar menjaga kedaulatan dan masa depan bangsa," tegas Menko AHY.










