TVRINews – Jakarta
Reformasi regulasi dan efisiensi rantai pasok pupuk memperkokoh ketahanan pangan serta stabilitas ekonomi nasional secara berkelanjutan.
Memasuki dua tahun masa kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Indonesia mencatatkan tonggak sejarah baru melalui pencapaian swasembada beras nasional. Keberhasilan ini diraih melalui perbaikan tata kelola fundamental, mulai dari reformasi regulasi hingga efisiensi rantai pasok secara berkelanjutan.
Langkah strategis pemerintah dalam membenahi sektor pertanian dari hulu ke hilir berhasil mengakselerasi produksi nasional. Berdasarkan data resmi, total volume produksi beras di dalam negeri sepanjang Januari hingga Desember 2025 berhasil menyentuh angka 34,69 juta ton.
Capaian tersebut melampaui estimasi awal pemerintah yang semula menargetkan pemenuhan kemandirian pangan dalam kurun waktu empat tahun. merealisasikan target kemandirian pangan jauh lebih cepat dari estimasi empat tahun yang direncanakan.
Ketahanan pasokan pangan kian diperkokoh oleh penguatan cadangan beras pemerintah (CBP) yang mencapai 4,61 juta ton per 19 September 2026. Dengan total estimasi ketersediaan beras nasional sebesar 26,91 juta ton pada periode yang sama, ketahanan stok pangan Indonesia diproyeksikan aman hingga 310 hari ke depan.

(Foto Ilustrasi Grafis: TVRINews.com)
Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan fondasi utama kedaulatan sebuah bangsa yang tidak dapat ditawar.
"Tidak ada bangsa yang merdeka kalau makan tidak bisa tersedia untuk rakyat. Tidak mungkin bangsa itu merdeka kalau makan, pangan, tergantung bangsa lain," tegas Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri Panen Raya di Karawang, Jawa Barat. Rabu 7 Janurai 2026 lalu.
Kunci keberhasilan dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran ini terletak pada deregulasi penyaluran pupuk bersubsidi. Pemerintah menyederhanakan jalur distribusi agar sarana produksi dapat mengalir langsung dari produsen ke petani secara cepat, efisien, dan tepat sasaran.
Guna meringankan beban operasional petani, alokasi pupuk bersubsidi juga ditambah sebanyak 700.000 ton diiringi penurunan Harga Eceran Tertinggi (HET) hingga 20 persen.
Melalui penguatan regulasi dan efisiensi rantai pasok tersebut, kepemimpinan Prabowo-Gibran optimistis mampu menjaga stabilitas pasokan pangan secara berkelanjutan sekaligus memperkokoh fondasi ketahanan ekonomi nasional dalam jangka panjang.










