TVRINews, Jakarta
Kementerian Kebudayaan RI berkolaborasi dengan Cita Tenun Indonesia (CTI) untuk mempersiapkan pengusulan tenun Indonesia ke UNESCO. Upaya ini dilakukan melalui pembahasan strategi nominasi, penyusunan dokumen pengajuan, serta penguatan dokumentasi dan basis data tenun dari berbagai daerah di Indonesia.
Langkah tersebut dibahas dalam pertemuan Menteri Kebudayaan Fadli Zon dengan perwakilan CTI. Pertemuan ini membahas strategi pengusulan yang sesuai dengan mekanisme UNESCO sekaligus memastikan kekayaan dan keragaman teknik tenun Indonesia dapat ditampilkan secara menyeluruh.
Dalam pertemuan tersebut, CTI memaparkan persiapan dokumen pengajuan tenun Indonesia, termasuk upaya menghimpun dukungan komunitas dari sejumlah daerah. Dokumen yang disiapkan mencakup beragam teknik tenun yang berkembang di Nusantara, seperti ikat, songket, rangrang, sobbi, dan teknik lainnya.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan bahwa strategi pengusulan perlu mempertimbangkan mekanisme UNESCO, termasuk kemungkinan nominasi bersama (joint nomination) atau perluasan pengakuan (extension). Kedua opsi tersebut menjadi bahan pembahasan untuk menentukan pendekatan yang tepat dalam pengajuan tenun Indonesia.
Menurut Fadli, kekayaan tenun Indonesia tidak hanya tercermin dari beragam motif dan teknik, tetapi juga dari keberlanjutan praktiknya di tengah masyarakat. Oleh karena itu, dokumentasi mengenai tradisi tenun perlu diperkuat agar keberadaan dan perkembangannya di berbagai daerah dapat tercatat dengan baik.

(Foto: TVRINews/HO-Kementerian Kebudayaan)
“Karena itu, penyusunan dokumen pengajuan perlu berjalan seiring dengan penguatan data, pengetahuan, dan bukti mengenai keberadaan serta keberlanjutan tradisi tenun di berbagai daerah,” kata Menbud Fadli Zon dalam keterangan yang diterima tvrinews, Rabu, 14 Oktober 2026.
Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam pembahasan tersebut adalah perlunya basis data tenun nasional yang terintegrasi dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Penelusuran kembali data yang telah dihimpun sebelumnya dinilai penting untuk melengkapi informasi mengenai teknik, motif, sejarah, persebaran, komunitas, hingga perajin tenun di berbagai daerah.
Pengurus Bidang Pengendalian Mutu CTI, Sjamsidar Isa, mengatakan pengusulan ke UNESCO diharapkan dapat mencakup keseluruhan kekayaan teknik tenun Indonesia, bukan hanya satu jenis teknik tertentu.
“Tenun Indonesia memiliki keragaman teknik yang sangat kaya. Karena itu, kami ingin mendorong pengusulan tenun secara keseluruhan ke UNESCO, bukan hanya satu teknik tertentu. Indonesia memiliki beragam teknik tenun yang berkembang di berbagai daerah, dan kekayaan tersebut perlu ditampilkan secara utuh,” ungkap Isa.
Selain penguatan data, peningkatan literasi mengenai tenun Indonesia juga menjadi bagian dari upaya pelestarian. Penerbitan buku dokumentasi yang mengangkat keragaman tenun daerah, khususnya tradisi yang berisiko punah, dinilai penting untuk memperluas pengetahuan masyarakat sekaligus menjaga keberlangsungan warisan budaya.
Dokumentasi tersebut diharapkan dapat menjadi sumber referensi bagi peneliti, pelaku budaya, desainer, dan generasi muda untuk mengenal lebih jauh kekayaan wastra Nusantara.
“Kita perlu memperkuat dokumentasi dan memperbanyak literasi tentang wastra Indonesia. Berbagai jenis tenun dari daerah perlu diangkat melalui buku dan dokumentasi yang baik agar kekayaan budaya tersebut semakin dikenal,” pungkas Menteri Fadli Zon.
Dalam pertemuan tersebut, hadir Pengurus Bidang Pelatihan dan Pembinaan CTI Koestriastuti, Marketing Communication Dewi Ivo Rajasa, serta Ketua Bidang Sertifikasi LSP Tenun Indonesia Tommy Utama.
Turut mendampingi Menteri Kebudayaan, Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan, Staf Ahli Bidang Hukum dan Kebijakan Kebudayaan Masyitoh Annisa Ramadhani, Staf Khusus Menteri Bidang Hukum dan Kekayaan Intelektual Putri Woelan Sari, serta Direktur Warisan Budaya Agus Widiatmoko.
Selanjutnya, Kementerian Kebudayaan dan CTI akan melanjutkan koordinasi untuk mematangkan dokumen pengajuan, mengkaji pilihan strategi nominasi UNESCO, serta menjajaki penguatan basis data dan kompetensi profesi di bidang wastra.
Kolaborasi ini diharapkan dapat mendukung pengakuan tenun Indonesia di tingkat internasional sekaligus memastikan tradisi tenun tetap lestari dan diwariskan dari generasi ke generasi.










