TVRINews, Pandeglang
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto mengajak generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk membangun mental aktivis, menguasai kompetensi global, dan memperkuat semangat nasionalisme sebagai bekal menghadapi berbagai tantangan di era yang penuh disrupsi dan ketidakpastian.
Pesan tersebut disampaikan Bima saat menjadi narasumber dalam Seminar Nasional bertema Geopolitik Global dan Tantangan Generasi Muda Indonesia yang merupakan bagian dari Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) II Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMD) Provinsi Banten, Pandeglang.
Bima menilai forum diskusi mahasiswa menjadi ruang penting untuk menyiapkan calon pemimpin masa depan yang memiliki daya juang, kemampuan adaptasi, dan karakter yang kuat dalam menghadapi perubahan zaman.
"Kalau istilah saya, kalian harus punya mental aktivis, keahlian global, dan hati nasionalis," kata Bima dalam keterangan tertulis yang diterima oleh tvrinews.com, Selasa, 16 Juni 2026.
Menurutnya, generasi muda perlu terus belajar, memperluas wawasan, dan memahami perubahan yang terjadi di tingkat nasional maupun global agar mampu menghadapi berbagai tantangan yang semakin kompleks.
Dalam pemaparannya, Bima mengutip pemikiran sosiolog Anthony Giddens mengenai generasi kosmopolitan, yaitu generasi yang mampu menggabungkan identitas lokal, nasional, dan global secara seimbang.
Ia menilai karakter tersebut penting dimiliki generasi muda Indonesia agar dapat bersaing di tingkat internasional tanpa kehilangan jati diri dan nilai-nilai kebangsaan.
"Di era global bisa punya jaringan yang luas. Di konteks nasional juga kokoh jiwa kebangsaannya. Tetapi punya akar lokal yang juga sangat kuat," ucap Bima.
Bima juga mengingatkan mahasiswa untuk memahami fenomena disrupsi yang saat ini terjadi di berbagai bidang kehidupan. Menurutnya, perubahan besar sering kali muncul dari kondisi yang tidak terduga dan melahirkan figur-figur baru di luar arus utama.
Ia merujuk pada buku The Great Wave: The Era of Radical Disruption and the Rise of the Outsider karya Michiko Kakutani yang menggambarkan dunia yang semakin dipenuhi ketidakpastian dan perubahan radikal.
Menurut Bima, fenomena munculnya tokoh-tokoh di luar kelompok utama menjadi salah satu gejala yang perlu dipahami secara mendalam oleh generasi muda.
"Pertanyaannya bukan siapa mengambil apa atau jatah siapa diambil siapa. Tapi lebih dalam dari itu, mengapa ini terjadi? Apakah ada kejenuhan terhadap arus utama? Apakah pemain-pemain lama kurang siaga? Itu menarik untuk menjadi bahan kontemplasi," tutur Bima.
Lebih lanjut, Bima menekankan pentingnya kemampuan beradaptasi dan berpikir terbuka dalam menghadapi dinamika global. Ia menilai pemimpin masa depan harus terbiasa berinteraksi dengan berbagai latar belakang, pandangan, dan keyakinan yang berbeda.
Menurutnya, keberagaman pengalaman dan perspektif menjadi salah satu faktor penting dalam membentuk kualitas kepemimpinan.
"Biasa berbeda, tidak harus selalu homogen dan sama. Tetapi sangat terbiasa dengan perbedaan pikiran, pendapat, ideologi, keyakinan, dan semuanya," ujar Bima.










